Gak ada motivasi apapun bagi kami menulis catatan kecil ini, namun, jika cerita ini menjadi satu hal baik untuk kita semua, ya, mari kita “amin-kan,” untuk semua yang baik tersebut semakin berdampak.
Soal rekam jejak masing-masing nama yang tersebut di atas, pastinya sebahagian besar pembaca yang berdomisili di Sumatera Utara (Sumut) sudah mengetahui. Ade adalah Ade Jona Prasetyo, selain sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera Utara (Gerindra Sumut), juga Anggota DPR RI komisi XII. Yin adalah Meriyawaty Amelia Prasetio, Bendahara Gerindra Sumut, juga Ketua LKBI Sumut dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Hati Emas Nusantara. Giat adalah Sugiat Santoso, Sekretaris Gerindra Sumut yang juga Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI. Ketiganya saat ini, merupakan pemegang “kunci kekuasaan,” Gerindra Sumut, Partainya Bapak Presiden Prabowo Subianto.
Melihat latar belakang ketiganya (Ade, Yin dan Giat), menurut penulis merupakan “copy paste,” dari orang kebanyakan, Ade adalah sosok anak muda enerjik yang tumbuh dan besar diantara kalangan masyarakat biasa di Medan dan sekitarnya. Yin juga demikian, adalah sosok perempuan dewasa dari masyarakat biasa yang kesehariannya bisa disaksikan langsung oleh para sahabat/kerabat, yang ada di kota Medan dan sekitarnya. Giat? Meskipun berasal dari Kuala (Langkat), namun, sejak menjadi mahasiswa, Giat sudah dikenal di kota Medan dan sekitarnya bahkan rekam jejak aktivitas aktivisnya, Giat sudah diakui di Jakarta juga. Ini catatan sebelum ketiganya menjadi “kunci kekuasaan,” di Gerindra Sumut. Hal ini perlu kami ingatkan, agar kita sepakat, bahwa ketiganya orang biasa yang melewati proses seperti orang kebanyakan juga, seperti susahnya, senangnya, serta tantangan yang dihadapi.
Ade, Yin dan Giat, saat ini memiliki peran yang berat, mengapa? Karena selain sebagai KSB Gerindra Sumut, masing-masing juga memiliki peran lain yang juga sangat sensitif dengan pengabdian dan pengorbanan. Jika “selip,” sedikit saja, pada peran lainnya, bisa juga mempengaruhi Gerindra Sumut keseluruhan. Sejak bulan November/Desember tahun lalu, kesibukan Gerindra Sumut dalam pengabdian kepada masyarakat yang terdampak bencana sungguh tidak bisa dilupakan begitu saja. Berulangkali ketiganya turun ke lapangan memimpin tim, baik saat bencana terjadi maupun pasca bencana. Ratusan ribu paket bantuan sembako dan paket bantuan lainnya sudah didistribusikan baik ke Aceh, Langkat, Sibolga-Tapteng, Tapsel bahkan ada juga ke Sumbar.
Saat perayaan Natal, Tahun Baru, Imlek, Ramadan dan Idul Fitri, semua hari istimewa tersebut diisi Gerindra Sumut dengan kegiatan pengabdian, berbagi dan peduli. Bahkan, sejak Ramadan, setiap hari Gerindra Sumut membagikan takjil, nasi kotak dan beras 5 kilo, untuk masyarakat. Apakah semua bisa terjadi jika tidak ada pimpinan yang menjadi komando?
Sinergi Ade, Yin dan Giat, menjadi fakta bahwa kekuasaan ditangan orang-orang biasa yang bertanggung jawab dengan perannya, akan berdampak baik untuk Rakyat. Apalagi tidak bisa dibantah bahwa ekspektasi rakyat kepada Gerindra Sumut yang merupakan juga partai Bapak Presiden Prabowo Subianto, sangatlah besar dan penuh harapan optimis. Ya, semoga saja Fakta baik yang sudah terukir akan terus dipertahankan dan dilanjutkan. Kalau sudah melakukan satu kebaikan, pastinya akan mudah melakukan 1000 kebaikan lainnya. Ade, Yin dan Giat, semoga tetap kompak, bergerak dan berdampak.
Ditulis dengan pendapat pribadi, oleh Muhri Fauzi Hafiz Ketua MIRA Sumut .


















