MEDAN — Wakil Sekretaris Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan, MPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara (MPW PP Sumut), Muhri Fauzi Hafiz, mengingatkan pentingnya menjaga memori sejarah bangsa, khususnya terkait peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).
Menurut Muhri Fauzi Hafiz, kondisi generasi muda saat ini yang dinilai semakin jauh dari sejarah masa lalu, patut menjadi perhatian semua pihak. Bahkan, dirinya mengingat sekitar tahun 1995–2005, pembahasan G30S dan komunisme cukup dikenal dalam pendidikan SMP, SMA dan SMK.
“Sekarang tantangannya berbeda. Generasi muda mendapatkan informasi sejarah dari berbagai sumber, terutama media sosial. Karena itu, negara harus memastikan sejarah tetap dipelajari secara kritis, utuh dan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan biarkan mereka lupa dengan sejarah G30S.” kata Muhri, di Medan, Rabu (30/9/2026).
Muhri Fauzi Hafiz juga menyoroti peran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Menurutnya, penguatan ideologi Pancasila harus semakin dekat dengan generasi muda dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Termasuk juga bersinergi dengan lembaga maupun Ormas yang konsisten memiliki program penguatan ideologi Pancasila.
“Setiap tanggal 30 September, kami di MPW PP Sumut ini, selalu melakukan acara renungan suci, dan sampai pagi tanggal 1 Oktober sebagai hari kesaktian Pancasila, boleh sekali waktu BPIP menghadiri bahkan memperkuat acara kami,” ajak Muhri.
Dalam keterangannya, Muhri juga mengakui meskipun materi sejarah Indonesia, tetap terdapat dalam pembelajaran sekolah. Namun, menurutnya, persoalannya adalah bagaimana sejarah tersebut benar-benar dipahami dan menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.
“Peringatan G30S dan Hari Kesaktian Pancasila jangan hanya menjadi agenda tahunan. Ini harus menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman sejarah, Pancasila dan kehidupan berkonstitusi,” ujarnya.
Muhri menilai penguatan pendidikan sejarah semakin penting menjelang Indonesia Emas 2045. Di tengah derasnya informasi digital, generasi muda perlu memiliki kemampuan membedakan fakta sejarah, opini, propaganda dan informasi palsu.(*)
















