Aksi Kegiatan

Gerakan Bunuh Politik Uang Selamatkan Generasi Milineal

#bangfauzi, Medan.

Gerakan Bunuh Politik Uang (GBPU) sudah saatnya menjadi gaya hidup dalam berpolitik. Mengapa? Sebab, jika Politik Uang masih menjadi cara ampuh untuk menang Pemilu/Pilkada maka kita akan meragukan kualitas Demokrasi yang kita miliki. Apalagi saat ini kecenderungan anak muda masuk dalam dunia politik praktis cukup meningkat, sehingga kita harus mewaspadai jangan sampai anak muda berbakat dan cerdas yaitu para putra/i Bangsa ini terjebak dalam praktik politik uang yang membuat daya nalar dan kepedulian yang dimiliki tergerus karena “transaksional.”

Bang Fauzi menghitung cukup banyak kepala daerah (Gubernur/Bupati/Walikota) yang diisi anak muda, mulai usia 27 tahun sampai 40 tahun. Belum lagi anggota DPR/DPRD, pastilah jumlahnya sudah semakin banyak, ditambah masing-masing anak muda tersebut yang sudah punya jabatan menjadi pengurus partai politik baik di pengurus pusat maupun daerah. Seandainya mereka terjebak dalam pusaran arus politik uang yang sudah dilakukan saat Pemilu/Pilkada, maka, sangat disayangkan kita akan kehilangan pemimpin Bangsa yang negarawan dengan memiliki kecerdasan emosional yang baik dalam menghadapi permasalahan bangsa dan negara.

Mungkin disitu ada putra/i kita yang sudah kita dorong untuk ikut mengadu nasib agar menjadi pemimpin melalui jalur partai politik.

Kita tidak boleh diam, keberhasilan seorang pendidik adalah menghasilkan seorang murid yang lebih baik dari dirinya. Kita tak boleh membiarkan politisi muda dengan semua angan dan idealisme yang dimiliki harus berhadapan dengan politik uang yang kejam. Politisi yang baik itu salah satunya adalah melahirkan kader baru yang punya kematangan komitmen dan tidak pragmatis dalam menyelesaikan masalah.

Dunia politik adalah dunia yang luas, apa yang akan dihasilkan dari dunia politik, kebanyakan adalah regulasi yang menjadi aturan bagi banyak orang. Dunia politik juga yang bisa menghantarkan seseorang menjadi Presiden atau Kepala Daerah. Artinya dunia politik ini beririsan erat dengan banyak kepentingan, termasuk kepentingan rakyat dan ummat.

Kalau generasi milineal masuk ke dunia politik diawali dengan cara-cara yang dilarang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka, sangat memprihatikan. Seandainya generasi milineal, para anak muda, berkarir di dunia politik melakukan politik uang yang jelas dilarang oleh Agama, sungguh keadaan ini sangat menyedihkan.

Apakah politik uang dalam dunia politik tidak bisa hilang? Jawabannya, bisa saja. Membutuhkan waktu yang lama? Jawabannya, tergantung siapa yang akan memimpin Gerakan Bunuh Politik Uang ini. Jika yang menyuarakan gerakan ini adalah penguasa yang memegang keputusan, maka, tanpa hitungan hari, politik uang bisa mati. Sebaliknya jika yang menyuarakan gerakan ini adalah kita semua, maka, kita harus siapkan energi kesabaran, keberanian untuk tampil didepan bersuara, tak ragu dalam perjuangannya.

Bang Fauzi dari catatan pengalaman yang dimilikinya sudah memperhitungkan bahwa Gerakan Bunuh Politik Uang ini tak segampang yang disampaikan. Serangan fajar, sembako Pilkada, Nomor Piro Wani Piro, ada uang ada suara, adalah beberapa penggalan kalimat-kalimat yang populer saat-saat Pemilu/Pilkada. Masih sangat jarang oknum caleg/ oknum calon kepala daerah atau oknum tim sukses yang ditangkap karena suap politik uang. Kalau soal pemahaman masyarakat/rakyat tentang “haramnya,” politik uang ini? Bang Fauzi yakin sudah hampir setiap Pemilu/Pilkada masyarakat sudah mengetahui Politik Uang haram dan dilarang.

Mari kita bergandengan tangan mempersiapkan dunia politik yang lebih baik buat putra/i kita agar masa dirinya nanti Politik ini lebih bermartabat tanpa segala bentuk Politik Uang.(Bang Fauzi)

To Top