Opini

Kekuatan itu Dinamai Desa

#bangfauzi

“Dimana tempat lahirnya? Desa apa?,” rasanya tidak hanya penulis mungkin pembaca sering juga mendapatkan pertanyaan seperti ini. Ya, satu pertanyaan sederhana tetapi punya makna,bahwa kita tidak jauh dari Desa. Sebagai tempat lahir atau kampung asal ibu/ayah, Desa secara emosional sangat erat dengan masing-masing kita. Desa punya pengaruh baik langsung maupun tidak langsung untuk kehidupan kita.

Oleh karena itu, sangat wajar kita melihat saat ini pembangunan banyak difokuskan di desa. Apa yang dibutuhkan orang kota dan kota itu sendiri, sebagian besar dari Desa. Mulai dari kebutuhan bahan pokok sampai urusan yang akan membantu di rumah, itu rata-rata dari desa.

Jangan abaikan desa, karena disana pembentukan karakter bangsa pernah terjadi. Jangan lupakan desa, karena disana ada kekuatan pembangunan yang besar. Mengabaikan dan melupakan desa bukan berarti tidak sering datang ke desa atau tidak membangunnya bukan, bukan itu.

Bang Fauzi berpendapat, maksud mengabaikan desa jaman kekinian adalah membiarkan dana desa yang besar dari negara dikelola tak tepat sasaran bahkan menjerat kepala desa dalam kasus hukum yang membuat desa jadi tak maju. Hal ini “mengabaikan” desa, sehingga desa “kebingungan” mengapa banyak dana dan cerita di media dari negara namun satupun tak bermanfaat untuk kesehatan, Pendidikan, kesejahteraan warga desa? Ada apa ini?

Kekuatan itu bernama desa. Marilah kita susun kembali semua cerita menarik tentang desa kita agar menjadi kekuatan yang bisa membuat negara kita diakui dunia. Desa pastilah punya ciri khas. Apalagi desa yang masih kuat menjaga kearifan lokal yang dimilikinya. Sungguh jika pembangunan adil merata yang dimaksud lebih fokus pada infrastruktur jalan dan jembatan, maka, prioritas itu haruslah desa. Maka, jika pembangunan sumberdaya manusia itu lebih fokus pada peningkatan kualitas peserta didik dalam belajar dan teknologi informasi, maka, anak-anak desa juga bagian prioritas itu. (*)

To Top