Opini

Politik Uang Jangan Jadi Mesin Pilkada Produksi Koruptor Baru

#bangfauzi,Binjai.

Tepatnya pada hari Rabu, 9/12/2020, sebanyak 270 daerah baik itu provinsi/kabupaten/kota di Indonesia akan melaksanakan agenda besar yang disebut pesta demokrasi rakyat atau biasa disebut Pilkada yaitu Pemilihan Kepala Daerah dan Wakilnya (Gubernur/Bupati/Walikota).

Disebut-sebut bahwa Pilkada ini sangat menentukan bagi masa depan rakyat di daerah. Sehingga, pelaksanaannya menjadi bernilai urgensi meskipun Indonesia masih dalam masa pandemi. Yah, begitulah nasib kita, Pilkada itu penting katanya, dan masa pandemi ini juga kita harus hati-hati, karena di televisi setiap pagi, kita menyaksikan pengumuman pemerintah soal banyaknya kematian yang terjadi akibat covid-19 saat ini.

Saya sepakat, bahwa Pilkada tahun ini menjadi sejarah yang perlu kita ingat kembali nantinya, ingatlah tahun 2020 ini khusus dan luar biasa. Jangan lupa.

Selain dilaksanakan pada masa pandemi covid-19, Pilkada tahun ini juga ternyata tidak terpengaruh dengan keadaan yang sedang terjadi secara nasional, yaitu keadaan yang disebut dengan istilah resesi ekonomi.

Menarik bukan? Ada pandemi, ada resesi ekonomi, namun tak ada pengaruhnya bagi Pilkada, Pilkada jalan terus, sebab, Pilkada adalah demokrasi yang harus dijunjung tinggi.

Kita punya harapan dalam Pilkada ini, harapan yang selalu bergaung terdengar dekat telinga dan terlihat terbaca oleh mata kita. Entah siapa yang konon punya tanggung jawab menggaungkan dan menyebarkan semua harapan itu, pastinya bukan setan atau malaikat.

Jauh hari sebelumnya, setiap mengikuti Pilkada, terkadang ada pikiran yang meresahkan mengganggu akal sehat banyak orang. Salah satu penyebabnya seperti “rantai makanan,” yang tidak terputus, saat setelah satu peristiwa Pilkada usai dan bersambung kepada peristiwa berikutnya, harapan yang ada tak pernah dirasakan. Kemajuan, kesejahteraan, kemakmuran, kepedulian, semua susah terdengar jelas lagi di telinga kita. Ah, sudahlah, kita semua harus optimis, karena dengan optimis, kata para mentor motivasi, hal itu sudah menjadi penanda kita akan kuat menghadapi kenyataan. Sekalipun yang terjadi bukan sesuai keinginan kita.

Satu harapan Saya dan beberapa sahabat yang sudah sadar, semoga yang terpilih dalam Pilkada 9/12/2020 nanti, tidak merupakan hasil kaderisasi politik uang yang seperti jamur dimusim hujan saat Pilkada serentak ini. Kalau itu terjadi ada 270 daerah (provinsi/kabupaten/kota) menjadi “pabrik” yang akan “produksi” merek “produk” dengan nama “koruptor daerah.”

Politik uang harus kita lawan, karena memang akan membuat harapan, visi dan misi seorang calon pemimpin menjadi mati suri. Dari sisi rakyat yang diakui sebagai pemilik mandat atas hak suara yang dimiliki, politik uang akan merendahkan martabat rakyat, karena, cerita akhir dari semuanya adalah soal transaksional, sudah dibayar, lepas tanggung jawab, “emang gua pikirin, lu udah gua bayar,” begitu salah satu contoh kalimat yang bisa terucap.

Masih ada kesempatan untuk berbuat baik bagi masa depan bangsa kita. Salah satunya kita berani berdiri tegak melawan semua perilaku transaksional melakukan politik uang dalam Pilkada. Jangan biarkan keluarga dan sahabat kita menjadi “pemodal” berjalannya mesin pabrik Pilkada untuk mencetak produk yang disebut koruptor. Apakah ajakan ini kuno dan naif? Bisa saja jawabannya benar kuno dan naif, namun, percayalah untuk menjadi orang baik tentu kita tidak selalu menjadi orang baik selamanya, ada saatnya kita juga pernah melakukan kejahatan lalu kembali tersadar untuk memeluk dengan erat kebaikan. Politik uang ini jahat, pelakunya adalah penjahat yang kejam. Jangan sampai Pilkada menjadi “pabrik” untuk memproduksi “koruptor,” karena jika itu terjadi banyak sekali kebaikan yang yang akan tertimbun, payahnya nanti anak cucu kita tidak akan melihat Pilkada sebagai ajang kompetisi adu komitmen dan visi misi, malah sebaliknya menjadi ajang berapa banyak mampu membeli suara rakyat untuk kembali dijual kepada mafia yang selalu menunggu kesempatan. (*)

To Top