Opini

Ingat Pilkada Jangan Lupa Corona

Tahapan Pilkada serentak tahun 2020 sudah dimulai sejak Jumat, 4/9/2020. Masing-masing bakal calon kepala daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota) sudah dibolehkan mendaftarkan dirinya menjadi calon kepala daerah.

Pilkada tahun ini penuh dinamika, sebelumnya sempat tertunda karena wabah pandemi covid-19 atau biasa kita sebut corona, namun, akhirnya dengan pertimbangan kemaslahatan yang lebih luas pemangku kekuasaan memutuskan melanjutkan tahapan yang puncaknya adalah hari pemungutan suara pada 9/12/2020 mendatang.

Meskipun hari-hari berikutnya pilkada dan pestanya akan menjadi cerita yang memikat, melalui opini ini, penulis mengingatkan agar jangan lupa juga dengan corona. Kalau kita mendukung Pilkada memang ada cerita yang banyak disana. Mulai dari pasangan calon kepala daerah yang “gagah perwira” menampilkan sisi baik diri dan keluarga untuk ambil simpati kita sebagai pemilih, sampai pada cerita visi dan misi kalau terpilih akan membangun apa di daerah. Asik banget kalau kita sudah cerita tentang Pilkada, apalagi jika dalam cerita kita tersebut di atas ada keberpihakan kita pada salah satu pasangan calon kepala daerah, maka, akan semakin indah rasanya. Tetapi, apakah setelah kita cerita demikian lalu menang dan terpilih sesuai kah dengan harapan kita? Jawabannya nanti dulu karena kita harus menunggu selama periode kepemimpinan.

Jangan lupa corona, karena cerita corona sudah mendunia. Meskipun Kita asyik Pilkada, pastilah tidak akan jadi pengamatan WHO sebagai salah satu organisasi Kesehatan Dunia yang sangat tren saat ini. Tetapi corona sudah sangat menjadi topik utama perbincangan dunia. Siapapun kepala negara dan kepala daerah yang menjabat saat ini, akan sedikit lebih banyak merenung dalam menghadapi wabah pandemi ini. Sebagai orang yang dulu juga ikut pilkada, semua tidak menduga tahun ini ada wabah corona ditengah-tengah kita.

Ingat Pilkada jangan lupa corona, marilah kita bekerjasama agar pesta demokrasi bisa menghasilkan kepala daerah yang peduli dan masyarakat biasa yang bergembira bisa bebas dari corona. Para calon kepala daerah bisa tersenyum senang saat dipilih, sebaliknya, masyarakat yang memilih bisa menangis sedih ketika kemanapun keluar dari rumah seperti tidak ada tempat yang aman. Dulu ketika takut dengan maling kampung di malam hari, masyarakat bergotong royong buat siskamling dan piket ronda. Sekarang jika takut dengan corona? (*)

To Top