Berita

Dewan Minta Gubsu Sahuti Aspirasi Petani Bahorok Untuk Bangun Irigasi

BANGFAUZI.COM – Sebanyak 21 kelompok tani beraudiensi menemui Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai Demokrat, Muhri Fauzi Hafiz di gedung dewan Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa (20/12/2016).

Para kelompok tani tersebut mengadukan nasib mereka soal aspirasi dan harapan mereka kepada pemerintah untuk memperbaiki dan membangun parit atau irigasi untuk lahan persawahan mereka seluas 670 hektar.

Menyikapi kedatangan warga Langkat tersebut, Muhri Fauzi berjanji akan memperjuangkan tuntutan kelompok tani semaksimal mungkin.

“Kita berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, melalui Gubsu Tengku Erry Nuradi memperhatikan parit irigasi sekunder maupun primer di sejumlah desa Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Karena sejumlah desa di Kecamatan Bahorok tersebut merupakan salahsatu basis ketahanan pangan di daerah ini,”katanya.

Terlihat Muhri Fauzi Hafiz sedang berdialog dengan para petani Bahorok, Kabupaten Langkat

Apalagi, lanjut Muhri Fauzi, keinginan dan semangat Pemprovsu menjadikan Kecamatan Bahorok sebagai kawasan strategis provinsi ketahanan pangan.

“Untuk itu, agar semangat provinsi menjadikan Kecamatan Bahorok menjadi kawasan strategis, maka gubernur harus segera merespon tuntutan kelompok tani tersebut,” kata anggota Komisi C DPRDSU ini.

Terlebih, lanjut Muhri Fauzi, para kelompok tani tersebut sudah lama menunggu keinginan mereka tersebut kepada pemerintah daerah, yang hingga kini belum juga terpenuhi.

“Tuntutan mereka sangat sederhana, meminta dibangunnya saluran irigasi untuk lahan persawahan mereka. Sehingga para petani bisa bersemangat kembali mengaktifkan lahan persawahan mereka dengan menanam padi, yang tujuannya juga sebagai ketahanan pangan,” kata anggota dewan asal pemilihan Kabupaten Langkat dan Kota Binjai ini.

Menurut pak Rukiman salah satu dari perwakilan petani mengatakan bahwa persawahan Desa Timbang Lawan sekitarnya, sejarahnya dulu adalah hadiah dari pemerintah kolonial Belanda yang diserahkan kepada kejuruan Bahorok kesultanan Langkat, untuk digunakan bercocok tanam bagi warga.

“Dulu, kurang lebih ada 670 Ha luasnya. Namun, yang saat ini hanya tersisa kurang lebih 380 Ha lagi. Persoalan debit air yang mengaliri persawahan ini memang bermasalah setelah peristiwa Banjir Bandang di Bahorok (2003), sebelumnya persawahan Bahorok sungguh subur dan warga menikmati hasilnya dengan bahagia,” kata Rukiman kepada Muhri Fauzi Hafiz.

Para pengurus kelompok tani yang masih bergantung dengan tapak-tapak persawahan sangat butuh perhatian pemerintah guna menghidupi sawah mereka.

“Jika dulu irigasi itu bisa baik dan lancar, kenapa sekarang tidak?” katanya lagi.

To Top