Berita

WN China Tanam Benih Cabai Berbakteri di Indonesia, Ini Bahayanya Jika Menyebar

Badan Karantina Pertanian menemukan benih cabai berbakteri. Ini terungkap setelah imigrasi menangkap 4 orang Warga Negara (WN) China di Kampung Gunung Leutik, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Mereka ditangkap karena melanggar visa kunjungan dengan menjadi petani dan menanam cabai di lahan seluas 4 hektar.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium Badan Karantina, benih bibit cabai yang ditanam WN China itu positif mengandung bakteri erwinia chrysanthemi. Bakteri tersebut tergolong berbahaya dan dikategorikan sebagai Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) golongan A1 atau belum ada di Indonesia, sehingga tidak dapat diberikan perlakuan apapun selain pemusnahan.

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Badan Karantina Kementerian Pertanian (Kementan), Antarjo Dikin, menjelaskan baktri tersebut bisa sangat berbahaya jika sampai menyebar di Indonesia.

“Itu kan belum pernah ada di Indonesia. Justru kalau berada di Indonesia yang tropis, bakteri seperti bisa jauh lebih berbahaya. Karena di sini kan kelembaban lebih tinggi,” ujar Antarjo ditemui di Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta, Senin (19/12/2016).

Menurut Antarjo, Bakteri Erwinia Chrysanthemi dapat menimbulkan kerusakan atau kegagalan produksi hingga mencapai 70%.

“Kita lakukan berbagai tindakan preventif penguatan di pemeriksaan, termasuk penguatan SDM kita,” ujar Antarjo.

Diungkapkannya, sampai hari ini pihaknya belum mengetahui asal muasal benih cabai berbakteri yang ditanam petani China itu, dan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan pada Imigrasi.

“Kita sedang kerja sama dengan Imigrasi, mereka yang melakukan penyelidikan dari mana asal cabainya bisa masuk. Jadi menunggu dari penelusuran dari Imigrasi, belum tahu masuk lewat mana,” pungkas Antarjo.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi, menjelaskan pihaknya menjamin cabai berbakteri tersebut tidak menyebar luas lantaran sudah dilakukan sterilisasi di lahan yang dipakai petani China tersebut.

Selain itu, lahan di perbukitan yang merupakan lahan bekas PTPN IV tersebut terbilang terpencil, serta dikelilingi oleh tanaman singkong sehingga kecil kemungkinan menyebar.

“Cabai kita perketat masuknya, saya sudah kesana, jd itu baru satu kali tanam. Saat penanaman belum menyebar, dia ada di atas (bukit), tanam di 6 hektar baru tanam 2 haktar, sekitarnya bukan petani cabai. Itu lahan eks PTPN ada 600 hektar, oleh warga karena nggak punya modal ditanami singkong. Insya Allah nggak menyebar,” terang Agung.

To Top