Berita

Setelah Jadi Holding, BUMN Bisa Investasi Rp 895 Triliun

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menekankan pentingnya BUMN melakukan transformasi agar bisa mendapatkan untung, sehingga berkontribusi lebih besar bagi pembangunan negara.

Salah satunya dengan pembentukan induk usaha alias holding company. Setelah ada holding, targetnya BUMN bisa berinvestasi hingga Rp 800 triliun.

“Kemarin kita ada rapat kabinet, Presiden bilang 2018 kita harus tumbuh ekonomi di atas 6%, melihat postur APBN, nggak bisa cuma andalin APBN, paling besar harus melalui investasi. 2016 investasi kita Rp 285 triliun, tahun depan Rp 450 triliun, 2018 Rp 895 triliun. Itu nggak boleh pakai dana APBN, makanya BUMN kita harus sehat,” kata RIni dalam sambutan di acara Forum BUMN, Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (3/11/2016).

“Kita harus untung, karena ada saat-saat kita perlu rugi untuk kepentingan rakyat Indonesia. Tapi harus untung dulu, karena baru bisa sedikit merugi kalau sudah untung. Jadi pada akhirnya harus tetap untung. BUMN-BUMN yang rugi harus kejar agar untung semua, agar bisa bantu rakyat Indonesia,” ucapnya.

Seperti diketahui, selama ini sejumlah perusahaan BUMN mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk mendukung proyek-proyek pemerintah seperti pembangunan jalan tol, bandara hingga pelabuhan. Namun ke depan, PMN tidak akan lagi diberikan.

Sebab, sebanyak 34 BUMN disiapkan oleh pemerintah untuk masuk ke dalam 6 investment holding yang bakal dibentuk dalam waktu dekat, yang bertujuan membantu penguatan permodalan perusahaan pelat merah tersebut.

“Ke depan PMN tidak bisa lagi karena APBN harus dikonsentrasikan untuk perbaiki gini ratio, menurunkan kemiskinan. BUMN tetap dituntut untuk terus menjadi agen pembangunan. Kita harus terus dorong pertumbuha ekonomi, terutama di luar Jawa, karena Presiden (Joko Widodo/Jokowi) bilang kita harus Indonesia sentris,” tutur dia.

Ia kemudian mempertanyakan banyaknya sejumlah pihak mempersoalkan pembentukan holding company. Padahal, kata Rini, terbentuknya holding company diharapkan perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut bisa meningkatkan modal, sehingga bisa bersaing di tingkat global.

“Kenapa dipermasalahkan holding? Pertamina itu sudah holding, anak usahanya 100 lebih. Jadi nggak usah ngapa-ngapain sudah holding. Pertamina tanpa PGN masuk itu sudah holding,” kata dia.

“Holding itu bantu kita perkuat permodalan di perusahaan-perusahaan di bawah holding company ini, tanpa memberatkan APBN. Contoh bagaimana holding untuk jasa keuangan dan perbankan. Perbankan kita ini sebesar-besarnya BRI, nomor berapa di ASEAN? Sama perbankan di Singapura saja kalah, karena permodalan perbankan kita kurang kuat,” ujarnya.

Dengan adanya holding ini, Rini menargetkan bahwa komitmen investasi akan meningkat dalam jangka panjang. Bahkan, pada tahun 2018, diperkirakan komitmen investasi dari perusahaan-perusahaan BUMN dapat mencapai Rp 895 triliun. (ang/ang)

To Top