Berita

Area-area di Rumah yang Diam-diam Bisa Jadi Sarang Nyamuk Aedes Aegypti

BANGFAUZI.COM – Nyamuk aedes aegypti yang merupakan vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) ‘senang’ bersarang di air yang menggenang, termasuk air yang bersih. Sehingga, telur dan jentik nyamuk bisa juga ditemukan di tempat-tempat tak terduga di rumah.

“Sumber jentik itu di air-air yang menggenang termasuk di dispenser, tampungan air AC begitu, nanti tau-tau airnya masuk ke lobang-lobang dan menggenang,” kata ketua Indonesian Technical Advosry Group on Immunization (ITAGI) Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K).

Selain itu, tempat minuman hewan peliharaan burung pun diam-diam bisa jadi tempat menetasnya telur nyamuk yang kemudian menjadi jentik dan tumbuh jadi nyamuk dewasa hanya dalam waktu 8 hari. Untuk itu, menurut Prof Sri ketika mengganti air minum burun, jangan hanya sekadar diganti airnya saja.

Sebisa mungkin, sikat dan bersihkan dinding-dinding tempat air minum burung. Sebab, Prof Sri mengatakan nyamuk aedes aegypti betina akan menaruh telurnya di dinding-dinding sebuah benda. Selain itu, patut diingat bahwa nyamuk bersifat anthrophilic alias senang dengan bau manusia.

Sehingga, baju bekas pakai dan berbau keringat lalu digantung bisa jadi tempat bersarangnya nyamuk. Prof Sri mengingatkan jika area tersebut sulit dibersihkan atau dikuras, bisa digunakan abate, misalnya saja pada bak untuk wudhu di masjid. Lantas, bagaimana dengan toren untuk menampung air?

“Kalau toren kan ditutup itu nggak perlu. Yang nggak perlu (dikuras agar tak terdapat jentik) itu yang tertutup dan dia kena tanah. Jadi kalau bawahnya tanah nggak akan hidup jentiknya, kalau bawahnya latai atau beton senang sekali nyamuknya,” kata Prof Sri di sela-sela Peringatan ASEAN Dengue Day ke-6 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Nah, bagi warga yang akan meninggalkan rumah mereka dalam waktu lama misalnya saja ketika mudik, Prof Sri mengingatkan agar semua area yang terdapat airnya ditutup dan dikeringkan. Misalnya bak mandi jika tak dikosongkan airnya, maka bisa ditutup dengan triplek misalnya. Pot-pot kosong yang berpotensi menampung air jika hujan pun baiknya disingkirkan.

“Intinya mesti dihilangkan wadah-wadah yang berpotensi menampung air,” ujar Prof Sri.

To Top