Berita

Tragedi Yuyun VS Kesadaran Bangsa

Yuyun adalah siswi SMP di Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu.

Ia menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan pada 2 April 2016. Polisi telah menetapkan 14 orang sebagai tersangka yang rata-rata masih berusia 17-20 tahun.

Dikutip dari berbagai media, peristiwa ini mengundang kemarahan Presiden Jokowi yang meminta proses hukum yang berat bagi para pelaku. Bahkan saat menteri sosial ibu Khofifah Indah Parawansa bertemu dengan para pelaku yang masih usia remaja, kabarnya dengan enteng mereka sebut saat itu sedang mabuk dan sering menonton film porno.

Pengakuan yang polos dari pelaku, jawaban yang mengguncang dada setiap orang tua yang memiliki anak putra/i baik seusia pelaku maupun alm. Yuyun.

Tragedi Yuyun sungguh luar biasa, diantaranya karena bergerombolan pelaku melakukan pemerkosaan kepada seorang Yuyun yang rasanya dengan akal sehat kita sulit membayangkan.

Selain marah, sepatutnya tragedi ini membuat presiden jokowi mulai tegas dengan pembinaan mental (bintal) anak bangsa. Apa yang digaungkan dengan konsep revolusi mental, tentu tidak hanya soal pemberantasan korupsi dan belusukan saja. Hari ini mungkin banyak peristiwa yang nyaris sama dengan tragedi Yuyun ini terjadi di daerah-daerah terpencil yang sempat luput dari pantauan media.

Semua gampang jika pemerintah berkehendak, saya berani bertanggung jawab atas pernyataan ini. Seperti kita ketahui, saat ini banyak dana desa yang dikelola langsung pemerintah desa, berikan keputusan agar dana desa sekian persennya bisa digunakan untuk program pendidikan mental remaja desa. Undang sahabat kepolisian polri dan tni menjadi pendidik, alim ulama dan tokoh desa menjadi pembina.

Pendidikan formal seperti sekolah yang ada saat ini, masih terbatas belum mampu membentuk anak bangsa menjadi pribadi yang kuat dan baik. Sebab, selain membentuk karakter, sekolah-sekolah formal juga punya standarisasi kurikulum yang diberi nilai sesuai kemampuan belajar siswa.

Perbaikan harus disegerakan, agar banyak anak bangsa seusia Yuyun dan pelaku pemerkosaan bisa terselamatkan. Revolusi mental tentu tidak hanya soal korupsi dan blusukan. Revolusi mental harus menjadi gerakan menyeluruh disemua aspek kehidupan dan melibatkan semua individu yang memiliki rasa cinta kepada tanah air dan bangsa ini.

Kepala daerah gubernur/bupati/walikota harus memikirkan nasib rakyat yang dipimpinnya, tidak hanya menyoal kesejahteraan saja, tapi moral dan kearifan lokal. Peraturan daerah yang mengakomodir kearifan lokal masih sedikit nyaris tidak ada. Padahal nilai-nilai luhur datu nenek moyang kita bisa diajarkan kepada anak bangsa seusia remaja, larangan peredaran minuman keras itu juga kearifan lokal yang banyak dipatuhi di daerah kita, belum lagi soal mengaji dan belajar agama, pastinya kebaikan itu pernah ada dan masih selalu ada. Lihat di aceh penerapan hukum syariat yang sudah berjalan, itu juga bisa menjadi pendorong jika berkehendak semua bisa dilakukan.

Tragedi Yuyun harus memunculkan rasa kesal kita terhadap kesadaran yang lupa. Kesadaran bahwa tontonan media televisi kita yang banyak tidak mendidik melalui sinetron dan film-film sejenisnya. Kesadaran yang kita lupa kalau sekolah formal nyaris sedang “susah,” karena harus mendorong siswa nya bisa iku UN dan lulus 100%.

Kesadaran yang lupa kalau di kampung-kampung kita masjid dan rumah ibadah sudah sepi dikunjungi remaja putra/i anak desa kita.

Oh, rasanya ingin sekali menjadi kepala daerah sekaligus menjadi presiden, untuk memberikan keputusan bahwa anak bangsa harus diselamatkan, mental dan karakter Indonesia ada pada Pancasila yang sangat mudah ditafsirkan dalam implementasi semua aturan diseluruh aspek bidang kehidupan. Lalu apalagi yang membuat kita sadar tapi lupa?

To Top