Catatan Kaki

Politik Mulia

 

Selama kurun waktu 2003 – 2015, lembaga anti rusuah KPK RI sudah menangkap 56 kepala daerah terdiri dari gubernur, wakil gubernur, bupati/walikota. Bahkan menurut data dari kementerian dalam negeri, yang diungkap Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, kepala daerah yang tersangkut kasus hukum, sampai akhir tahun 2015, ada 343 orang. Para kepala daerah ini  berperkara hukum baik di kejaksaan, kepolisian, mau pun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Belum lagi kasus korupsi yang melibatkan para anggota DPR/DPRD yang cenderung ada di seluruh daerah provinsi maupun kabupaten/kota di negara kita ini.

Mereka semua adalah produk politik yang dihasilkan melalui proses Pemilu/Pilkada. Mereka semua diantaranya merupakan hasil pengkaderan dari partai politik yang merupakan satu-satunya organisasi yang diakui negara kita untuk mengusulkan calon kepala daerah maupun anggota DPR/DPRD untuk dapat ikut dalam pesta demokrasi yang kita sebut Pemilu dan Pilkada.

Apakah kita tidak merasa bersalah dengan fakta dan situasi yang terus terjadi mewarnai dunia politik bangsa kita? Apakah kita biarkan semua mengalir seperti air sungai menuju muara? Apakah kita teruskan kebencian karena perilaku mereka menjadi warisan untuk anak-cucu kita?

Tindak pidana korupsi yang dilakukan mereka bukanlah perbuatan yang mulia. Maka, sebagai orang yang menentukan masa depan bangsa ini kita semua harus menyadari bahwa apa yang terjadi saat ini, juga peran dari suara kita, ada keterlibatan kita yang dibungkus dengan rasa ketidak-pedulian dan menjauhkan politik dari kehidupan kita sehari-hari.

Padahal sesungguhnya sehari-hari kita semua tidak terlepas dari politik atau berpolitik.

Disebut, bahwa  politik adalah seni dalam memengaruhi orang lain, maka saya berani menyebut bahwa setiap Ayah/Ibu dalam satu keluarga juga melakukan “seni,” yang disebut politik.

Mengajak agar anak-anak kita rajin belajar, serta memberikan doktrin tentang masa depannya, berdiskusi membangun cita-cita keluarga, apakah harus sesuai kehendak Ayah/Ibu maupun kemauan anak-anak, sesungguhnya itu juga politik.

Di sisi lain, kaum ibu juga sering berpolitik guna bisa meyakinkan suami agar bekerja cari uang dengan sungguh-sungguh untuk kebaikan keluarga. Bahkan tidak jarang saat-saat proses meyakinkan tersebut diiringi janji-janji indah atau “bonus romantis,” sebagai imbalan dari pengaruh yang disampaikan, hal itu juga berpolitik.

Selingkuh pun adalah seni politik, bahkan “cari muka,” sama atasan supaya jabatan dapat posisi lebih baik, juga politik.

Memang kita akui bahwa dalam konteks bernegara, politik menjadi lebih rumit dan dinamis. Kekuasaan yang diraih melalui proses Pemilu dan Pilkada sering tak bisa lagi kita kendalikan.

Semua berpolitik, bahkan saat anak kita di bangku sekolah dasar ditunjuk guru dan kawan-kawannya menjadi ketua kelas, itu juga politik.

Semua tentang politik tidak kotor, semua tentang politik tidak melulu menyoal korupsi. Tawar menawar di pasar yang kita sebut transaksi dalam bidang ekonomi, juga hakikatnya adalah politik.

Politik Mulia bisa kita wujudkan dengan menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam diri kita. Kejujuran adalah ciri orang yang takut pada Tuhan. Orang yang jujur akan menjadi teladan yang baik dimanapun berada dengan peran yang dimilikinya.

Selain itu, pemahaman bahwa politik merupakan kebiasaan yang tidak dapat kita pisahkan dari kehidupan kita, sejak dari pagi sampai malam, akan melahirkan perilaku yang tidak pragmatis dan egois.

Karena itu, jangan jauhi politik praktis sebab kebencian  kita karena perilaku oknum politikus. Jika kita membuat sekat, kita bisa membangun politik kebencian yang turun temurun. Akhirnya, kekuasaan tidak indah lagi karena korupsi menjadi-jadi, kekuasaan hanya menjadi mimpi bagi anak bangsa yang pintar tapi tak punya uang untuk membeli suara saat Pemilu/Pilkada.

Padahal kita semua mengetahui kalau sejak dahulu, masa yang lama sekali dari masa sekarang, berpolitik santun, luhur dan baik sudah dicontohkan oleh para Nabi, Raja-Raja/Mahapatih, punggawa, sampai panglima perang sekalipun yang terkesan kejam. Bahkan tokoh-tokoh pendiri bangsa ini sudah memberikan keteladanan yang dicatat sejarah.

Sudah saatnya siapapun kita saat ini untuk menyerukan semangat membangun peradaban bangsa dengan gerakan Politik Mulia, politik yang mengutamakan kejujuran, kerja keras, integritas dan prestasi. Ajakan ini merupakan satu keresahan anak bangsa yang menginginkan perubahan yang lebih baik. Sebab, kita tahu bahwa politik tidak seburuk rupa yang terlihat. Mari kita lawan Politik Uang yang dapat menghancurkan masa depan bangsam. (mfh)

To Top