Berita

Bank Sumut Sayang

Belakangan ini kabar-kabari tentang Bank Sumut terus mewarnai koran dan media online yang ada di kota Medan dan Sumatera Utara. Berita-berita itu  terbit, merupakan hasil liputan peristiwa karena ada aksi dari kelompok masyarakat/mahasiswa. Ada  juga karena ulasan pengamat, anggota DPRD dan anggota masyarakat lainnya.

Berita baik tentang Bank Sumut yang merupakan salah satu BUMD milik pemerintah provinsi Sumatera Utara dan pemerintah kabupaten/kota, nyaris dikalahkan oleh lajunya berita negatif tentang “performance,” Bank Sumut.

Dalam ingatan saya, mulai dari hasil temuan BPK terhadap laporan keuangan Bank Sumut, sampai salah satu oknum Direksi Bank Sumut yang partisan dengan ikut kegiatan salah satu partai politik, hingga persoalan “write off,” kredit bermasalah, sampai dugaan korupsi mobil dinas, terus menerus sampai ke telinga kita dan berita-berita koran.

Bank Sumut ku Sayang yang malang, kenapa? Sebab, sebagai BUMD yang memiliki keunggulan emosional dibanding dengan lainnya, disebabkan pemerintah provinsi dan seluruh pemerintah kabupaten/kota menempatkan dana APBD dalam bentuk penyertaan modal, sehingga Bank Sumut bisa merasakan harapan besar rakyat Sumatera Utara.

Namun, sangat disayangkan hari ini, meskipun disebut jajaran direksi saat ini adalah orang-orang profesional yang teruji, namun, sudah tercoreng dengan perilaku oknum Direksi yang partisan dengan dibuktikan ikutnya dirinya dalam kegiatan partai tersebut dalam skala nasional.

Tidak hanya itu saja, konsep baru yang lebih baik, yang pernah didengungkan jajaran direksi baru ini, terasa hambar dengan tindakan bank sumut mengatasi masalah kredit macet yang ditandai dengan tingginya persentase angka NPL nyaris mendekati 5%.

Write off, ratusan miliar rupiah kredit/pembiayaan yang macet. Meskipun dibolehkan, namun, prinsip kehati-hatian harus dijaga, bahkan eloknya semua dilakukan dengan prosedur dan tahapan yang benar dan disetujui para pemegang saham.

Belum lagi besarnya biaya operasional yang ditandai BOPO yang tinggi hampir mencapai 70%, meskipun dibolehkan, namun, sepatutnya efisiensi dalam situasi yang serba tidak pasti saat ini, merupakan pilihan yang lebih baik. Atau karena gaji pejabat Bank Sumut yang tak terkendali, atau karena borosnya biaya promosi?

Untuk jajaran pimpinan Bank Sumut sedunia, ini cakap yang ditulis untuk pengingat kita semua, maka, ketahuilah BUMD tetaplah BUMD meskipun anda mantan dari lembaga apapun namanya, bahwa sadari kalau saat ini kinerja cerdas anda yang sedang kami nanti. Bukan manuver pribadi yang tak bernilai urgensi anda tampilkan kepada kami.

Bank Sumut Sayang, karena sudah banyak bantu kehidupan kami. Tutupilah semua kekurangan yang terjadi dengan prestasi bukan arogansi pribadi-pribadi. BUMD ya tetap BUMD bukan yang lain. (mfh)

To Top