Berita

Banjir Yang Menyebalkan

Hujan terus menerus turun sejak hari Minggu (7/2/2016) sampai hari Senin (8/2/2016). Kekuatannya tetap terkendali, namun, karena sudah berjam-jam, dua kota di daerah kami, Medan dan Binjai, tak bisa terhindar dari Banjir.

Banjir bagi kota Medan, bukan hal yang baru, bukan juga hal yang ditakuti,  karena kota ini sudah terbiasa dengan banjir dan bawaannya.

Menyebalkan, karena banjir datang berulangkali, sampai semua nyaris putus asa untuk mencari solusi. Kota Medan dengan anggaran APBD yang lebih dari 5 triliun rupiah, seakan tak mampu melindungi rakyatnya dari Banjir.

Kota Binjai, sebagai kota satelit dari kota Medan, juga menghadapi persoalan yang sama tentang Banjir.

Namun, peristiwa kali ini (2016), Banjir di kota Binjai sungguh memprihatinkan. Dari berbagai informasi yang kita lihat bersama, Banjir di kota Rambutan ini, luar biasa.

Apakah aksi sosial yang tergerak beberapa hari ini mampu menjawab beban turunan dari Banjir?

tanah sekitar banjir

Terlihat jalan di Kota Binjai bahkan terbelah karena dihantam banjir

Pemerintah melalui kepala daerah dan para wakil rakyat sepatutnya menjadikan Banjir kali ini, sebagai motivasi agar kehadiran dan peran pemimpin bisa dirasakan.

Seberat apapun itulah kepercayaan yang sudah berani kita ambil saat pemilu maupun pilkada yang lalu.

Indomie dan beras berton-ton pun tak bisa mengobati rasa nyaman yang sudah terganggu. Puluhan Posko kesehatan dan dapur umum tidak bisa menyembuhkan rasa khawatir kehilangan harta benda dan jiwa.

Cakap yang saya tuliskan ini merupakan upaya menegur diri terutama buat pemerintah, buat negara dan para penguasa yang memiliki kewenangan jauh lebih sempurna dari seorang wakil rakyat yang hanya kuat bersuara.

Bersatulah, ada APBD ada APBN, buatlah dua hal tersebut menjadi solusi. Memang berat namun jika terus menerus Banjir terjadi sepertinya akan menyiram bibit benci yang membunuh nurani.

Akhirnya, ada dendam yang bersifat laten terus bergelora bagi kerabat yang selalu khawatir untuk Banjir. Kerabat itu punya sahabat, kerabat itu punya sanak/famili yang menjadi tetangga-tetangga kita.

Semua membayar pajak, semua juga ikut berpartisipasi pada Pemilu dan Pilkada lalu. Kenapa kita abaikan? Dengan kata penutup anggaran terbatas?

To Top