Berita

Kejagung Tetapkan Eddy Sofyan dan Gatot Jadi Tersangka Korupsi Bansos

Kejaksaan Agung menetapkan Gubernur Nonaktif Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho sebagai tersangka korupsi dana bantuan sosial di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tahun anggaran 2012-2013.

“Hasil ekspose penyidik disepakati, kami telah menetapkan dua tersangka. Satu Gatot, Gubernur nonaktif, dan Eddy Sofyan, Kepala Badan Kesbangpolinmas,” ujar Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Arminsyah di kantornya, Senin (2/11/2015) malam.

Arminsyah mengatakan, penyidik menemukan dua alat bukti yang cukup atas dua orang tersebut. Sehingga, keduanya pun ditetapkan sebagai tersangka.

Selanjutnya, penyidik akan memeriksa Gatot dan Eddy. Namun, Arminsyah belum dapat mengungkapkan kapan pemeriksaan mereka dilaksanakan.

Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung Amir Yanto menjelaskan, tahun 2012, Pemprov Sumut mendapat dana hibah dari pemerintah pusat sebesar Rp 294 miliar dan dana bantuan sosial sebesar Rp 25 miliar.

Tahun berikutnya, Pemprov Sumut kembali mendapatkan dana hibah sebesar Rp 2 triliun dan dana Bansos sebesar Rp 43 miliar.

Kejaksaan, lanjut Amir, menduga penyaluran dana-dana tersebut tidak tepat sasaran sekaligus menguntungkan pihak-pihak tertentu. Selain itu, ada penyaluran dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Satuan kerja dana itu telah membuat pertanggungjawaban yang tidak sesuai dengan Peraturan Kemendagri tentang penyaluran dana hibah dan Bansos. Sehingga, berpotensi menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 247 miliar,” ujar Amir dikutip dari Kompas.com.

Sebelumnya, Gatot dua kali ditetapkan Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) sebagai tersangka.

Pertama, KPK menetapkan Gatot sebagai tersangka kasus dugaan penyuapan hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan.

Gatot pertama kali diperiksa pada Rabu (22/7). Saat itu, ia diperiksa selama kurang lebih 11 jam. Sedangkan pemeriksaan kedua pada Senin (27/7), Gatot diperiksa 14 jam.

Namun, Selasa (28/7), politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini ditetapkan sebagai tersangka. Selain Gatot, KPK juga menetapkan status yang sama kepada istri Gatot, Evy Susanti.

Kedua, KPK Gatot dan Evy Susanti sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemberian hadiah atau janji dalam proses penanganan perkara bantuan daerah, tunggakan dana bagi hasil, dan penyertaan modal sejumlah Badan Usaha Milik Daerah di Provinsi Sumatera Utara.

“Dari hasil gelar perkara dan permintaan keterangan baik saksi maupun tersangka dari kasus lain, penyidik menyimpulkan dua bukti permulaan yang cukup disimpulkan terjadi dugaan tindak pidana korupsi yang diduga dilakukan GPN dan ES,” ujar pimpinan sementara KPK Johan Budi di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (15/10).

Gatot dan Evy diduga memberi hadiah atau janji kepada mantan Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Patrice Rio Capella, terkait penanganan perkara yang juga ditangani Kejaksaan Agung tersebut. Dalam kasus ini, KPK juga menetapkan Patrice sebagai tersangka.

Sempat Sebut Tak Terlibat

Ketua Tim Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung Victor Antonius mengatakan, pihaknya tidak menemukan keterlibatan Gatot dalam perkara dugaan korupsi dana Bansos Pemprov Sumut periode 2011-2013.

“Sampai saat ini, (penyidik) belum melihat ada hubungannya dengan Gatot,” ujar Victor di kantornya, Kamis (29/10). Kesimpulan itu, lanjut Victor, didapatkan dari hasil pemeriksaan lebih dari 250 saksi, baik mantan pejabat Pemprov Sumut maupun sejumlah LSM penerima dana bansos.

Victor melanjutkan, penyidiknya sudah menemukan siapa pihak yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut. Namun, dia menolak menyebutkan siapa pihak yang menurut kejaksaan menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2,5 miliar tersebut.

Pihaknya baru akan mengungkap setelah ada audit resmi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Sudah ada benang merah siapa yang bertanggung jawab atas penyimpangan dana bansos. Kita akan kembali turun ke lapangan (Sumut) setelah hasil perhitungan kerugian negara oleh BPK dilakukan,” kata dia.

To Top