Biografi

Sosok Nenek Jadi Panutan Sejak Kecil

BAGI Muhri Fauzi Hafiz sosok nenek lah yang menjadi panutannya sejak kecil, pesan beliau selalu terpatri di benaknya. Bagaimana harus berbuat baik pada orang lain dan bagaimana harus tekun belajar dalam kehidupan masih diigatnya terus sampai sekarang.

Masa kecil Fauzi sendiri banyak dihabiskan di Tanah Merah, Binjai Kota bersama neneknya, karena di saat yang bersamaan orantuanya bertugas di luar kota. Kondisi ini lah yang membuatnya harus tinggal bersama neneknya saat masih duduk di SD dan SMP.

“Namun yang bisa saya banggakan dari SD sampai SMP, mudah-mudahan saya juara terus di kelas,” katanya sambil tertawa.

Selama empat tahun dirinya tinggal bersama neneknya, cukup memberikan kesan yang mendalam bagi seorang Fauzi. Jadi karakternya pun merasa diasah mulai saat dirinya tinggal bersama sang nenek.

“Saya selalu didoakan supaya pintar, apalagi nenek saya itu taat beribadah. Beliau keturunan melayu. Biasanya kan mereka kuat dalam agama,” kata kader asal Partai Demokrat ini.

Impian seorang Fauzi sejak kecil sudah diapungkan, siapa sangka pria yang kini duduk menjadi anggota DPRD Sumatera Utara ini sangat menginginkan menjadi seorang camat. Cita-cita yang tumbuh di kota asalnya, Binjai.

Namun seiring memasuki bangku SMP keinginan itu berubah, seiring keinginan untuk memasuki dunia tentata. Kehidupan yang penuh kedisiplinan dan menjadi sosok yang bisa membela negara menjadi motivasi tersendiri bagi Fauzi sehingga benar-benar ingin masuk TNI.

Untuk itulah ia ingin masuk ke SMA Taruna Nusantara di Magelang, menjelang kelulusan SMP saat itu ada saudara yang memberitahu kalau di Sibolga akan dibuka sekolah yang sama yakni SMA 2 Matauli yang digagas mantan Panglima TNI Jenderal Faisal Tanjung dan politisi Akbar Tanjung.

Sehingga masuklah Fauzi di sekolah itu dengan harapan bisa menjadi tentara, karena pada dasarnya pendidikan yang diterapkan di SMA Matauli sama tidak jauh dengan sekolah di Magelang. Hingga akhirnya dia lulus.

Sang juara kelas ini pun mencoba masuk menjadi Taruna TNI yang saat itu masih disebut AKBRI, namun sayang sudah saat tes akhir (pantohir) ia tidak lulus. Sehingga bangku perkuliahan pun dipilih untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Setahun kemudian barulah Fauzi lulus di Universitas Andalas Jurusan Ekonomi Pembangunan. Ia mengharapkan ambisinya menjadi orang yang sukses dalam meniti karirnya bisa dilanjutkan di sini.

Budaya Melayu Punya Posisi

Langkat dan Binjai tidak bisa dipisahkan dari benak Fauzi, pasalnya dari daerah pemilihan ini lah ia bisa duduk menjadi wakil rakyat yang terhormat di DPRD Sumut. Bagaimana pun ia berkeinginan kuat memajukan daerah asalnya ini sesuai dengan kapasitasnya sebagai anggota legislasi.

Menurutnya budaya Melayu sebenarnya memiliki akar yang kuat di dua wilayah ini, karena dahulunya pernah menjadi wilayah kekuasaan Melayu dari Kesultanan Langkat. Ia pun sangat memprihatinkan orang-orang Melayu, terutama budaya Melayu yang mulai tergerus hampir tidak kelihatan.

“Bisa dibilang Langkat ini kan negerinya orang Melayu, sampai sekarang potensi dan sumber daya manusia dari anak-anak Melayu Binjai dan Langkat belum keluar semua, belum terhimpun dengan baik. Sehingga perannya untuk memajukan suku Melayu belum cukup kelihatan,” katanya.

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top