Opini BangFauzi

Adakah Akal Sehat Itu?

Bangfauzi.com – Belakangan ini istilah akal sehat seperti tren, sampai-sampai istilah ini mengantarkan sosok Rocky Gerung menjadi populer di kalangan rakyat Indonesia.

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang lebih baik dari lainnya, manusia, telah diberikan akal untuk melanjutkan perjalanan hidupnya di dunia.

Akal yang diberikan Tuhan menjadi pembeda manusia dengan hewan yang hanya memiliki nafsu maupun tumbuh-tumbuhan yang hanya memiliki kemampuan tumbuh dan berkembang.

Kita tidak akan bertanya kenapa Tuhan berikan akal kepada manusia? Namun, kita bisa memahami bahwa Tuhan berikan akal kepada kita untuk mengendalikan nafsu yang sama dimiliki juga oleh hewan dan mengendalikan gerak tumbuh kembang aktifitas kita, yang sama juga dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan.

Jadi akal itu sejatinya merupakan pembeda kita dengan makhluk lainnya.

Lalu adakah akal sehat itu? Menjawab pertanyaan di atas dengan pertanyaan lain, yaitu, apakah ada akal yang sakit?

Ketika kehadiran akal diberikan kepada manusia untuk mengendalikan hawa nafsu yang dimiliki berarti akal itu sejak ada pada diri manusia tetaplah akal, bukan akal sehat maupun akal yang tidak sehat.

Saya pikir akal sehat itu tidak ada.

Muhri Fauzi Hafiz calon legislatif DPRD Sumut dapil Binjai dan Langkat

Mungkin ketika nafsu yang ambisius dan tidak terkendali masuk keruang akal lalu mengatur akal sehingga mempengaruhi aktifitas gerak tumbuh kembang kita sebagai manusia, ditampilkan dengan akibat yang merusak nilai dan aturan-aturan yang ada, mungkin itulah yang disebut hilangnya kekuatan akal.

Akal harus kuat untuk mampu menjalankan tugas berat yang dimilikinya. Posisi akal harus menjadi penyeimbang terhadap nafsu dan gerakan tumbuh kembang yang dimiliki manusia.

Oleh karena itu, akal harus diberikan asupan yang berharga dan kekuatan hebat yang bisa mengendalikan nafsu. Karena akal diciptakan Tuhan, maka, pengetahuan suci yang bersumber dari Tuhan dan para Nabi menjadi hal utama yang harus terus-menerus kita berikan kepada akal.

Seperti saat ini, dinamika politik yang semakin keras hiruk pikuk nya, sangat membutuhkan kehadiran akal yang menjadi penengah antara nafsu dan gerak tumbuh kembang yang dimiliki manusia.

Calon presiden dan wakil presiden sudah deklarasi maju untuk menjadi pemimpin rakyat Indonesia. Tentu mereka harus mampu mendamaikan akal yang dimiliki dengan nafsu dan gerak tumbuh kembang yang terjadi.

Jika nafsu menjadi pemenang lebih menguasai akal, maka, lahirlah perintah kepada tim sukses untuk melakukan segala cara agar kemenangan diraih.

Namun, sebaliknya, jika akal menjadi penyeimbang nafsu dan gerak tumbuh kembang, maka, akan terlihat akselerasi nilai-nilai kemanusiaan yang beradab.

Kampanye dimaknai sebagai proses pencerdasan agar rakyat punya informasi yang kuat supaya akal tetap utama dalam pertimbangan untuk memilih.

Rakyat dalam posisi yang luar biasa mengikuti dinamika politik jelang pemilu 2019 ini, sangat dinamis merasakan beratnya akal yang ada untuk menerima kehadiran pasangan calon presiden dan para calon anggota DPR/DPD RI dan calon anggota DPRD provinsi dan kabupaten / kota.

Rakyat sudah malas menggunakan akal dalam pertimbangan memilih, bagi sebagian orang, manfaat pemilu ini hanya untuk pemuas nafsu bahwa suara yang hari ini dibutuhkan para calon eksekutif dan legislatif itu , punya harga yang bisa dibanderol untuk memuaskan nafsu sesaat baik untuk rokok maupun sebungkus paket sembako atau makan siang dengan segelas teh manis dingin. Soalnya sudah bertahun-tahun lamanya akal ini menunggu kehadiran kebaikan yang nyata dari pemilu, tetapi tetap tak kunjung datang. Adakah akal sehat itu? (*)

To Top