Berita

Kebanggaan Indonesia Jadi Tuan Rumah Asian Games 2018

Bangfauzi.com – Pernyataan Erick Thohir, orang nomor satu dalam urusan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakartta dan Palembang, menimbulkan rasa kagum, dan sekaligus rasa ngeri. Bisa juga dikatakan kekhawatiran. Seperti yang diberitakan Topskor pada edisi Jumat 13 Januari lalu, di bawah judul “Sajian Kelas Dunia”, Ketua INASGOC (Panitya Penyelenggara AG 2018) yang juga Ketua KOI (Komite Olimpiade Indonesia) itu memberi keterangan khusus tentang kemeriahan AG 2018.

Memang benar, kemeriahan semua pesta olahraga, baik pada level nasional maupun internasional,  akan tergambar terutama pada upacara pembukaannya. Ketika AG 1962 digelar di Jakarta, seorang wartawan India kemudian melukiskan dalam bukunya, “Presiden Soekarno membuka pesta olahraga Asia itu dalam upacara pembukaan yang spektakuler”.

Setelah berselang 56 tahun, tentunya wajar kalau upacara pembukaan di tempat yang sama, Stadion Utama Gelora Bung Karno, akan lebih spektakuler. Apalagi setelah stadion dan infrastruktur di sekitarnya  kelak akan menjadi lebih indah dan megah berkat renovasi dengan biaya sekitar Rp 3 triliun.

Decak kagum dari sekitar 80.000 penonton, termasuk Presiden Joko Widodo, pada upacara pembukaan “superspektakuler” pada 18 Agustus 2018 nanti mungkin juga sudah dibayangkan oleh Erick sendiri. Rating acara berdurasi sekitar dua jam di stasiun televisi yang membuat siaran langsung pun mungkin sudah diduga-duga akan bisa mendekati dua digit.

Itu sebuah prediksi yang menggambarkan pemirsa di Tanah Air akan disajikan upacara pembukaan yang luar biasa megahnya. Namun di balik itu ada sesuati yang menimbulkan rasa ngeri, yaitu biayanya.

Menurut Erick, meski pemerintah hanya sanggup membantu Rp 4,5 triliun untuk seluruh kebutuhan biaya penyelenggaraan AG 2018 yang diperkirakan sekitar Rp 8 triliun, pihaknya tidak galau. Soalnya, Erick telah menyiapkan 60 juta dolar AS (atau sekitar Rp 797 miliar) khusus untuk keperluan upacara pembukaan dan penutupan.

Pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Glora Bung Karno, Jakarta

Dana sebesar itu katanya jauh lebih kecil dibanding ongkos penyelenggaraan pembukaan dan penutupan Olimpiade Musim Dingin 2014 maupun  Olimpiade Musim Panas 2016. Tapi diakuinya itu jauh lebih besar dibanding biaya serupa yang dihabiskan AG 2014 di Incheon, Korea Selatan (sekitar Rp 281 milyar) maupun AG 2010 di Guangzhou, Cina (sekitar Rp 670 miliar). Bagaimana prestasi?

Kiprihatinan pertama kita terhadap rencana indah Erick dan panitia di belakangnya itu memang pada aspek biayanya. Membandingkannya dengan biaya seremoni Olimpiade yang melibatkan lebih dari 250 negara di dunia jelas tidak relevan. Sebab, postur Asian Games memang jauh lebih ramping, hanya untuk kepentingan 45 negara di benua Asia.

Sebaliknya, mengapa dengan biaya yang jauh lebih kecil, Guangzhou maupun Incheon  mampu menggelar upacara pembukaan yang luar biasa. Sehingga, banyak orang mengenang AG 2010 maupun 2014 dengan rasa takjub? Kita juga patut mengingat, upacara pembukaan hanyalah pintu untuk melangkah ke ruang luas dengan banyak sekali kegiatan lebih penting di dalamnya. Sehebat-hebat upacara pembukaan, tidak akan dihargai dan dikenang seperti prestasi atlet, apalagi mereka yang menciptakan rekor, atau meraih kemenangan dengan penampilan dan kualitas istimewa. Intinya, medali yang diraih atlet akan selalu bersemayam di buku sejarah. Disebut-sebut dan diingat selamanya.

Contoh: keberhasilan pelari cepat Mohamad Sarengat merebut medali emas 100 meter  pada AG 1962 dengan waktu 10,4 detik itu misalnya, masih terus diingat oleh para pecinta olahraga kita. Kebanyakan kita juga masih ingat Sarengat merebut emas kedua pada nomer lari gawang 110 meter dengan 13,8 detik.

Di tengah kondisi ekonomi negara yang masih memprihatinkan, sampai menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indonesia  harus berutang untuk membayar bunga utang luar negeri, menghamburkan uang untuk kebutuhan yang tidak amat sangat utama,  jelas mubazir dan tidak bijaksana. Apa yang terjadi kalau setelah upacara pembukaan yang hebat, para atlet tamu maupun atlet kita sendiri mengeluhkan kondisi arena pertandingan yang jauh dari sempurna? Atau atlet terlambat sampai di arena laga karena terlambat dijemput? Atau mereka mengeluh sekadar akibat toilet di kamar ganti  tidak berfungsi?

Bagi kita, masyarakat luas, keinginan terbesar yang diharapkan akan muncul dari perhelatan AG 2018 nanti pastilah prestasi tinggi para atlet, terutama atlet Indonesia. Pertandingan-pertandingan bermutu tinggi, dan pemecahan rekor sebanyak mungkin ke tingkat setinggi mungkin, akan membuat AG 2018 ditulis dengan tinta emas dalam ingatan para pecinta olahraga maupun penulis sejarah.Kesuksesan AG 2010 di Guangzhou maupun AG 2014 di Incheon juga tidak hanya ditandai dengan upacara pembukaannya yang hebat.

Atlet-atlet Cina maupun Korsel sama-sama membuat prestasi gemilang, lebih hebat dari kemegahan kegiatan seremonial apa pun. Pertanyaan kita, lagi-lagi, bagaimana kira-kira prestasi atlet Indonesia di AG 2018 nanti?

Jangan-jangan upacara pembukaan yang istimewa dengan biaya raksasa itu justru berdampak negatif kepada atlet. Pembukaan yang bagus memang perlu, tapi makanan atlet harus bergizi tinggi, uang saku mereka jangan terlambat, dana uji coba jangan dipotong, fasilitas latihan jangan kacau balau, durasi pembinaan juga jangan dipangkas.

Mengerikan, karena mendekati hari-hari H pada 2018 deretan keluhan seperti itu masih dominan. Masih nyaring terdengar dimana-mana. Akan menjadi ironi besar kalau kelak, pada upacara penutupan yang biasaya meriah dan penuh tawa ria,  wajah-wajah anggota kontingen Merah Putih justru bermuram durja.

***Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional

Artikel sebelumnya tayang di kolom Topskor

To Top