KOTA BINJAI

Komitmen Junjung Bahasa Indonesia, Pemko Binjai Segera Terapkan Perda Pegutamaan Bahasa Indonesia dan Perlindungan Sastra Daerah

Muhri Fauzi Hafiz saat bersama Walikota Binjai M Idaham

Bangfauzi.com – Pemerintah Kota Binjai segera menerapkan Perda Sumatera Utara Nomor 8 Tahun 2017 tentang Pengutamaan Bahasa Indonesia dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Daerah. Hal ini disampaikan Walikota Binjai, M. Idaham, S.H., M.Si. saat membuka sosialisasi pengutamaan bahasa negara di ruang publik di Aula Walikota, Jalan Jenderal Sudirman No. 6 Binjai, Senin, 2 April 2018.

“Kita berkomitmen untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Insyaallah, segera kita sosialisasikan dan terapkan Perda ini di Binjai”, ujar Idaham di hadapan seratusan peserta yang terdiri dari para pejabat SKPD, pengusaha hotel dan restoran/kuliner, dan para kepala sekolah.

Walikota Binjai dua periode ini juga menyinggung sikap masyarakat Indonesia yang cenderung kurang percaya diri terhadap identitas bangsanya, bahasa Indonesia. Bahkan jika dibiarkan, tidak mustahil keberadaan bahasa Indonesia akan hilang, “Kepedulian terhadap bahasa Indonesia makin hari makin menipis. Saya lihat sendiri di Binjai ini, papan-papan nama usaha, iklan, dan reklame sudah penuh dengan bahasa asing, bahasa Inggris,” jelas Idaham berapi-api. Ia pun yakin dengan mengutamakan bahasa Indonesia yang santun, akan mampu menciptakan individu/masyarakat Indonesia yang berbudi pekerti.

Pada akhir sambutan sekaligus paparannya, Idaham mengharapkan kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lain yang lebih menarik dan dapat membangun sikap masyarakat agar bangga dengan bahasa Indonesia.

Pernyataan Idaham juga diamini Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara, Dr. Fairul Zabadi. Fairul bahwa ruang publik kita mayoritas masih dipenuhi bahasa asing daripada bahasa negara sendiri. “Begitu kaki saya jejak di Bandara Kualanamu, saya sudah disambut dengan “Welcome to Kualanamu International Airport”. Apakah bandara itu hanya untuk orang asing saja? tanya Fairul kepada para peserta.

Lebih lanjut Fairul menceritakan pengalamannya ketika menyusuri Kota Medan, ”Jalan-jalan di Kota Medan pun demikian. Papan nama, baliho, kain rentang, dan nama kompleks perumahan berbahasa asing yang tak terhitung banyaknya, keberadaan bahasa Indonesia bahkan nyaris tergusur. Media massa seperti televisi dan radio juga lebih suka menayangkan dan mendengarkan istilah-istilah asing,” beber Fairul. “Tentunya, kegiatan ini bertujuan untuk membangun sikap dan kesadaran masyarakat Sumatera Utara, khususnya masyarakat Kota Binjai untuk mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik,” tambahnya.

Kegiatan bertajuk “Pengutamaan Bahasa Indonesia dan pelindungan Bahasa Daerah dan Sastra Daerah Penerapan Perda Provinsi Sumatera Utara No. 8 Tahun 2017” ini juga turut diisi narasumber dari DPRD Sumut, Muhri Fauzi (Wakil Ketua Komisi A). Muhri menyatakan bahwa usulan perda ini merupakan program inisiatif DPRD pada tahun 2016. Menurutnya, ada keprihatinan mengenai penggunaan bahasa asing yang semakin dominan di Sumatera Utara, “Kami khawatir dominasi bahasa asing terutama bahasa Inggris akan meminggirkan penggunaan bahasa negara, bahasa Indonesia,” ungkap Muhri. Ia juga menyebut jika bahasa dan sastra daerah di wilayah Sumatera Utara harus dijaga dan dirawat. Hal itulah yang melandasi DPRD Sumut bersama-sama dengan Balai Bahasa Sumut memunculkan dan menginisiasi lahirnya Perda Nomor 8 Tahun 2018 ini.

Pada kesempatan ini juga disepakati kerja sama antara Pemerintah Kota Binjai dengan Balai Bahasa Sumatera Utara tentang program sosialisasi dan penertiban penggunaan bahasa negara di ruang publik di Kota Binjai.

To Top