Berita

Office Boy Meninggal Wariskan Rp 200 Juta Lebih

Bangfauzi.com – Seorang petugas cleaning service (office girl), Dian Pusparini, menerima klaim santunan dari BPJS Ketenagakerjaan Kantor Jabang Jakarta Menara Jamsostek senilai senilai Rp 203 juta lebih. Santunan tersebut merupakan warisan dari almarhum suaminya, Slamet Mulyadi, yang meninggal akibat kecelakaan kerja.Penyerahan santunan secara simbolis berlangsung di tempat almarhum berkerja sebagai office boy di Kantor Akuntan Publik Kap Tanudiredja, Wibisana Rintis dan Rekan, PT Prima Wahana Caraka (PWC) Plaza 89 Lantai 12, JI H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan (11/3). ”Semoga almarhum syahid, karena meninggal ketika berjihad yaitu bekerja untuk mencari nafkah keluarga,” ungkap Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta, Endro Sucahyono, di sela-sela penyerahan santuan simbolis.

Turut mendampingi pula, Kepala Kantor Cabang (Kakacab) BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Menara Jamsostek, Agoes Masrawi, Konsultan BPJS Ketenagakerajaan Sunarwan Patianom, serta Senior Manager PWC Taufik Budisetiawan serta jajaran manajemen PWC. Menurut Endro, sudah menjadi kewajiban dari pihaknya untuk menyampaikan hak dari almarhum Slamet yang tercatat aktif sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

”Kami ucapkan terimakasih kepada pihak perusahaan yang mempekerjakan almarhum karena melindungi seluruh karyawannya dengan program BPJS Ketengakerjaan,” ungkap Endro. Menurunya, program BPJS Ketenagakerjaan adalah wajib karena sangat bermanfaat bagi pekerja. Salah satu manfaat besar itu adalah perlindungan tanpa batasan biaya dan tanpa batasan waktu bagi peserta yang dirawat di RS karena kecelakaan kerja.

”Salah satu peserta kami ada yang masih menjalani pemulihan luka bakar dengan biaya lebih dari Rp 9 miliar dan masih berjalan. Apa jadinya jika biaya itu ditanggung sendiri oleh perusahaan gara-gara tidak mengikutkan karyawannya ke program BPJS Ketenagakerjaan,” paparnya.

MendampingiEndro, Kakacab BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Menara Jamsostek, Agoes Masrawi, juga memuji PWC sebagai perusahaan yang patuh dengan aturan BPJS Ketenagakerjaan.
PWC mengikutkan seluruh karyawannya dengan program lengkap yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pensiun (JP).

MenurutAwi, PWC juga tertib membayar iuran dan tertib melaporkan upah karyawan yang sebenarnya. ” PWC ini tentu menjadi contoh yang baik bagi perusahaan lain karena terbukti melindungi seluruh karyawannya,” tuturnya.

Sementara itu Dian Pusparini mengucapkant terimakasih baik kepada PWC yang juga tempatnya bekerja bersama suami dan BPJS Ketenagakerjaan yang memberikan santunan. Dirinya berjanji akan mengelola uang santunan dari suaminya itu dengan sebaik-baiknya. Sebelum meninggal, Dian mengaku mendapatkan firasat dari mendiang suaminya.

”Suami saya bilang sebentar lagi kita akan mendapatkan cobaan tapi Insya Allah cobaan itu akan berlalu tiga bulan,” ungkap Dian menirukan ucapan mendiang suaminya. Hingga akhirnya Dian menerima kabar jika suaminya kecelakaan motor di saat pulang kerja menuju rumah di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

”Katanya ditabrak angkot. Tapi yang nabrak tidak bertanggung jawab,” ucapnya. Korban sempat dilarikan ke RS Mitra Keluarga Depok dan ditangai di UGD dalam keadaan koma. Namun akhirnya korban meninggal dunia.

Mendiang Slamet Mulyadi didaftar peserta BPJS Ketengakerjaan oleh PT PWC sejak Februari 2006, atau 11 tahun 7 bulan. Atas kecelakaan kerja tersebut ahli waris atau istrinya menerima santunan dengan rincian santunan JKK Rp 172 juta yaitu hasil perkalian upah Rp 3,5 juta x 48. Ada pula santunan berkala total Rp 4,8 juta, santunan pemakaman Rp 3 juta, JHT Rp 22,3 juta, dan Jaminan Pensiun yang diterima oleh ahli waris perbulan Rp 319.450.

To Top