Ekonomi

Alasan Unit Usaha Syariah Bank Sumut Harus Menjadi Bank Umum Syariah

Bangfauzi.com – Anggota DPRD Sumatera Utara, Muhri Fauzi Hafiz mengungkapkan, sebagai stake holder dirinya menilai prospek mengembangkan Unit Usaha Syariah (UUS) yang dimiliki PT. Bank Sumut menjadi Bank Umum Syariah (BUS) adalah satu upaya strategis yang jitu, di tengah melambannya kondisi perlambatan bisnis Bank Sumut pada saat ini.

Menurutnya, tidak ada pekerjaan yang sulit untuk dilakukan, jika dilandasi yang bersumber dari hukum yang tertinggi.

“UUS Bank Sumut kan jaringan kantornya sudah hadir di beberapa kabupaten/kota, tapi itu kan memang belum merata di seluruh wilayah. Jadi dengan berdirinya Bank Sumut Syariah, ke depannya Insya Allah layanan perbankan syariah akan hadir secara merata di seluruh wilayah Sumatera Utara,” terang Muchri kepada Pro Investa.

Dipaparkan Muchri, kehadiran perbankan syariah di Indonesia dan provinsi Sumatera Utara sesungguhnya memiliki beberapa latar belakang.

Selain prospek bisnis yang menguntungkan, alasan lainnya adalah, pertama, kondisi objektif yang ada di masyarakat kita tentang keyakinan bahwa bunga bank adalah riba. “Keyakinan ini tidak bisa dibantah lagi, oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mengakomodir kebutuhan berbagai lapisan masyarakat dengan mengembangkan sistem perbankan syariah yang tidak memperanakkan bunga dan mendasari kegiatan usahanya berdasarkan prinsip-prinsip syariah” pungkasnya.

Keadaan ini merupakan satu peluang bisnis yang potensial, meskipun PT. Bank Sumut memiliki UUS, namun jika dibandingkan dengan Bank Umum yang ada di Sumatera Utara, kehadiran UUS PT. Bank Sumut ini masih belum mampu menjadi pilihan sebagian besar masyarakat Sumatera Utara yang ada di 24 wilayah kabupaten/kota.

Sebagai perbandingan lainnya, lanjut Muchri Fauzi, banyak bank umum konvensional yang sudah memiliki BUS sendiri yang beroperasi di daerah Sumatera Utara. Misalnya PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank Syariah BRI, PT. Bank Syariah Bukopin, PT. Bank Syariah CIMB Niaga, dan lainnya.

Jika dicermati, lanjut dia, kelompok bank-bank raksasa ini terus berkompetisi secara berkelanjutan mengejar potensi pasar dengan terus mengembangkan sayapnya dengan membuka titik layanan syariah di kabupaten/kota.

“Karenanya, Bank Sumut sebagai bank daerah yang diharapkan menjadi Regional Champion jangan sampai hanya menjadi penonton saja,” tukas Muchri yang dikenal akrab dengan rekan media ini.

Alasan kedua, yaitu pengembangan sistem perbankan syariah, pada dasarnya sejalan dengan upaya peningkatan ketahanan sistem perbankan nasional dan daerah. Fakta pada krisis ekonomi tahun 1997 dan tahun 2008 lalu, diketahui sektor perbankan konvensional kita terpuruk akibat gejolak nilai tukar dan tingkat suku bunga bank yang tinggi, sedangkan bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah mampu bertahan.

“Ini dikarenakan karakteristik kegiatan usaha bank syariah yang melarang bunga, serta melarang transaksi keuangan yang bersifat spekulatif (al-gharar) tanpa didasarkan kegiatan usaha yang riil,” tegas dia.

Menurut dia, keberadaan dua sistem perbankan (dual banking system) yang berkembang secara bersama-sama dan mempunyai hubungan keuangan yang terbatas satu sama lain, akan menciptakan diversifikasi resiko keuangan secara lebih beragam, yang akhirnya dapat mengurangi problem risiko sistemik pada saat terjadi krisis keuangan.

Berbagai keunggulan sistem perbankan syariah tersebut seharusnya bisa diterima kalangan stake holder Bank Sumut melalui Gubernur selaku pemegang saham pengendali (PSP). “Upaya penguatan sistem perbankan daerah melalui pendirian BUS PT. Bank Sumut menjadi pilihan yang baik bagi pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Gubernur guna pengembangan bisnis BUMD keuangan ini,” anjur Muchri.

Untuk itu, tambah politikus Partai Demokrat Sumut ini, OJK terus melakukan sosialiasi dan edukasi ke seluruh masyarakat terkait bisnis syariah dan konvensional. Karena memang, masih banyak masyarakat menilai bisnis syariah ini bernilai Islami. Padahal nilai bisnisnya bukan hanya untuk kalangan muslim saja, namun terbuka untuk semua kalangan lapisan masyarakat. Yang membedakannya dengan bank konvensional adalah penerapan sistem bagi hasil.

DPRD Sumut, ungkap Muchri, berharap sumbangan PAD ke Pemprovsu dari Bank Sumut konvensional dan Syariah dapat meningkat. Sedang untuk modal bagi Bank Sumut Syariah, manajemen harus bijak melakukan strategi jitu dan menyakinkan agar Pemprovsu dan 33 kabupaten/kota menanam sahamnya.

“Ajak pemegang saham baru di Bank Sumut Syariah ini. Jangan berharap dari dana penyertaan modal. Kalau nanti bisa berkembang, maka dengan sendirinya DPRD Sumut akan mendukung untuk penambahan modal dari APBD,” pungkasnya.

Persiapan Manajemen

Di sisi lain, Muchri Fauzi juga mengingatkan meskipun legislator sangat mendukung rencana spin off namun ada tiga hal yang harus disegerakan manajemen PT Bank Sumut guna mendukung target ini agar dapat berkembang dan bermanfaat.

Tiga hal yang dimaksud itu, lanjut Fauzi yang juga pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut ini, yakni pengelola PT Bank Sumut harus dapat meyakinkan Pemegang Saham Pengendali (PSP) yakni Pemprovsu, bahwa spin offUUS Bank Sumut adalah proses bisnis yang menguntungkan dan bermanfaat guna mendukung upaya menjadikan Bank Sumut sebagai Regional Champion Bank.

Kedua, mempersiapkan infrastruktur pelayanan UUS menjadi Bank Umum Syariah mulai dari fasilitas kantor maupun jaringan pelayanan lainnya dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki baik soal rasio kecukupan pegawainya maupun untuk kualitas pemahaman terhadap produk perbankan syariah.

Dan selanjutnya dapat meyakinkan lembaga lainnya seperti DPRD yang menjadi mitra pemerintah daerah untuk mendukung penambahan modal sebagai syarat utama untuk spin off UUS Bank Sumut.

“Yakinkan semua pihak bahwa Bank Sumut Syariah ini mampu berkembang dan bersaing dengan Bank Sumut konvensional sehingga ke depannya diharapkan seluruh kabupaten/kota di Sumut dan Pemprovsu menanamkan saham,” kata Fauzi.

Politisi dari Partai Demokrat ini juga menilai, kehadiran Bank Sumut Syariah menjadi strategi bisnis karena pasar perbankan syariah di Sumut masih ada potensi besar yang belum digarap.

Sedangkan untuk meraih pasar perbankan syariah di Sumut, tambahnya, Bank Sumut harus meningkatkan pelayanan dan menciptakan produk penyimpanan dana yang bersaing atau menambah fitur produk pembiayaannya yang murah dan tidak rumit pengurusannya. “Jika ini dipenuhi saya yakin Bank Sumut syariah bisa diminati masyarakat dan dapat menyumbang PAD yang besar,” tuturnya. (inv)

To Top