Sumut

Narkoba Jangkiti Anak-anak, Fauzi Dukung BNN yang Siapkan Banyak Kantong Mayat Bagi Pengedar

Bangfauzi.com – Anggota DPRD Sumatera Utara Muhri Fauzi Hafiz khawatir obat ‘zombie’ PCC yang menimbulkan korban jiwa di Kendari akan merambah ke Sumatera Utara.

Dia mendukung Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Budi Waseso ingin melibatkan TNI untuk memberantas peredaran narkoba di Indonesia dan siap-siap untuk menyediakan kantong mayat lebih banyak bagi para pengedar dan bandar narkoba.

Muhri menyinggung pemberantasan ala Presiden Rodrigo Duterte di Filipina, yang dinilai dapat memberi efek jera terhadap para pengedar narkoba.

“Saya mendukung pemberantasan narkoba yang digaungkan oleh Pak Budi Waseso dengan menyediakan kantong mayat yang banyak untuk para pengedar dan bandar narkoba. Peredaran narkoba sekarang sudah sangat masif. Apalagi mereka sudah meracuni anak-anak kita,” kata Muhri Fauzi Hafiz anggota Komisi A DPRD Sumut, Sabtu (16/9/2017).

Fauzi mengingatkan saat ini Sumatera Utara sudah masuk darurat narkoba, posisi Sumut berada di peringkat ke dua di bawah Jakarta.

Dia menyebtukan bahwa saat Indonesia, jadi pasar potensial bagi para pengedar dan bandar untuk meracuni anak-anak. Untuk itu para penegak hukum katanya harus didukung untuk benar-benar perang dengan narkoba hingga bisa menimbulkan efek jera pada mereka.

Katanya apa yang telah dilakukan di Filipina itu lebih tegas. Namun Muhri mengaku tidak ingin mencontoh penindakan narkoba seperti yang dilakukan Duterte. Dia hanya menegaskan akan terus mendorong penindakan tegas terhadap pelaku penyalahgunaan narkoba.

Dia mengatakan harus ada mekanisme hukum yang tepat untuk menanggulangi masalah narkoba. Terlebih narkoba saat ini sudah menjangkiti siapa pun, mulai dari politisi, polisi, TNI, guru bahkan kini sudah masuk peredarannya ke anak-anak.

Penyalahgunaan obat-obatan kembali marak. Baru-baru ini marak kasus penyalahgunaan obat keras PCC yang seharusnya digunakan sesuai dengan resep dokter.

Salah satu kasus yang menonjol adalah penyalahgunaan obat PCC yang menyebabkan 50 orang menjadi korban di Kendari, Sulawesi Tenggara. Akibat efek penyalahgunaan obat ini, korban bisa mengalami gangguan kepribadian hingga disorientasi.

“Terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi terkini yang dilansir dari keterangan kepala bidang umum BNN Provinsi bahwa saat ini Sumatera Utara, berada pada posisi ke-2 di Indonesia terkait peredaran narkoba,” kata Fauzi.

Hal itu terungkap dalam kegiatan kunjungan kerja komisi A DPRD Provinsi Sumatera Utara bersama dengan Satgas pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, peredaran gelap narkoba (P4GN) ke pemerintah kota Siantar dan kabupaten Simalungun, pada tanggal 4 s.d. 7 September 2017.

Seperti yang diketahui pemerintah pusat dan Presiden sangat memprioritaskan upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba ini, terbukti dg diterbitkannya peraturan menteri dalam negeri nomor 21 tahun 2013 yang menyebutkan bahwa Gubernur /Bupati /Walikota memfasilitasi pencegahan penyalahgunaan narkotika di provinsi dan kabupaten/kota di wilayahnya, ujar, Muhri Fauzi Hafiz menambahkan.

Berdasarkan survei Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI Tahun 2015, Sumatera Utara (Sumut) merupakan peringkat 2 provinsi dengan prevalensi penyalahgunaan narkoba tertinggi di Indonesia setelah Provinsi DKI.

Seperti yang disampaikan sebelumnya Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Budi Waseso menyinggung akan menyediakan kantong mayat lebih banyak bagi pengedar untuk memberantas narkoba.

“Jumlahnya kalau seluruh indonesia, kalau serentak, yang pasti perlu kantong mayat yang banyak. Kita lihat saja nanti, tidak satu-satu. Saya maunya bikin kejutan, kita silent, laksanakan dengan data-data yang kita kasih. Dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya seperti kemerdekaan Indonesia,” ujar Buwas seperti yang dikutip Tribunnews.

To Top