Berita

Menilik Jejak Muslim di Jerman

Bangfauzi.com – Saat ini Jerman seperti gadis cantik yang sangat ingin diperbincangkan oleh khalayak ramai. Betapa tidak, Jerman tercatat sebagai negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di bagian Eropa Barat setelah Prancis. Ada sekitar 4,8 juta orang Muslim yang tinggal di Jerman. Dan kebanyakan mereka bukanlah penduduk asli Jerman. Namun, statistik terbaru menunjukkan  adanya peningkatan yang cukup signifikan penduduk Jerman yang menjadi muallaf.

Kebanyakan warga Muslim di Jerman berasal dari Turki, Bosnia, Herzegovina, Iran, Maroko, Libanon, Syria, Tunisia, Jordan dan Indonesia. Perkembangan agama Islam dan komunitas Muslim memiliki efek positif bagi masyarakat Jerman. Penerimaan masyarakat Jerman terhadap agama Islam menunjukkan bahwa Islam memberi solusi atas permasalahan hidup mereka.

Menurut sejarah, penduduk Muslim pertama sekali datang ke Jerman adalah bagian dari hubungan diplomatik, militer dan ekonomi antara Jerman dan kerajaan Ottoman pada abad ke 18. Saat ini agama Islam tidak lagi dianggap sebagai agama imigran tapi sudah berbaur dalam kehidupan masyarakat Jerman. Warga Muslim mampu menyatukan agama Islam dan budaya setempat. Mereka menyebutnya sebagai “Euro Islam”

Sangat bisa dimengerti betapa beratnya warga Muslim tinggal di Jerman terutama saat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan pada saat musim panas. Matahari bersinar lebih lama dari pada Indonesia. Sahur pukul 3.00 pagi dan maghrib pukul 21.30. Namun dengan kekuatan iman, warga Muslim di Jerman tetap sanggup menjalankan ibadah puasa Ramadhan.  Warga Muslim harus selalu memiliki solusi cerdas atas masalah-masalah yang dihadapi. Terutama agar mudah menjalankan ibadah khususnya shalat. Untuk mengetahui waktu shalat, warga Muslim bisa mendownload aplikasi di ios ataupun android atau melihat dari website yang menyediakan jadwal shalat. Jika tidak memiliki aplikasi tersebut maka Muslim di Jerman akan merasa kesulitan untuk mengetahui waktu shalat.

Berbeda hal nya dengan di Indonesia. Kita bisa mendengar suara azan lima kali sehari dari mesjid-mejid sekitar kita. Kebutuhan warga Muslim akan ketersediaan makanan halal tidak perlu dikhawatirkan karena di Berlin kita akan sangat mudah menemukan makanan halal. Ada banyak makanan khas Turki seperti doner kebab yang dijual di sudut-sudut kota. Kita juga dengan mudah bisa menemukan restauran-restauran Arab.

Banyak sentimen negatif terhadap Muslim akhir-akhir ini. Hal ini dipicu oleh adanya incident-incident yang terjadi di Eropa yang dilakukan oleh sekelompok oknum yang mengaku sebagai bagian dari Islam. Hal ini tentu saja merusak citra agama Islam sebagai agama yang membawa kedamaian. Kita perlu melakukan dialog dan menunjukkan kepada masyarakat Jerman dan Eropa bahwa insiden-insiden yang terjadi itu bukanlah gambaran agama Islam yang sebenarnya. Prinsip dasar menjalankan agama Islam adalah melakukan perbuatan baik.

Menjalin hubungan baik dengan Tuhan dan manusia. Warga non-Muslim tidak perlu takut kepada Muslim karena agama Islam adalah agama yang yang mengajarkan kedamaian. Komunitas-komunitas Muslim harus sangat aktif mendekati pemuda-pemuda Muslim untuk memberi petunjuk bagaimana agama Islam sangat bisa diterapkan dalam kehidupan modern mereka. Islam bisa dijadikan solusi bagi setiap permasalahan hidup mereka.

Agama Islam sangat rapi mengatur setiap sendi kehidupan dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Pada dasarnya kunci dari dari integrasi antara warga Muslim dan masyarakat Jerman adalah warga Muslim harus sungguh-sungguh mau menerapakan konsep habluminallah dan habluminannas. Habluminallah artinya adalah menjalin hubungan baik dengan Allah, Tuhan semesta alam. Habluminannas artinya adalah menjalin hubungan baik dengan sesama manusia. Tentu saja hal ini harus dilakukan secara seimbang agar kita mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Menjadi Muslim di Eropa bukanlah hal yang mudah namun sungguh menjadi hal yang menggembirakan saat konselor Jerman Angela Markel menyatakan bahawa Islam adalah bagian dari negara Jerman. Jerman bukanlah negara rasis. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya warga asing yang tinggal di Jerman. Saling menghargai satu sama lain adalah kunci dari kehidupan yang damai.

Kita patut bersyukur dengan semakin bertumbuhnya pandangan postif dari Jerman, Inggris dan Prancis terhadap agama Islam. Meskipun agama Islam adalah agama minoritas di negara-negara ini namun kita berharap agar saudara-saudara kita bisa menjalankan ibadah shalat, puasa dan menggunakan hijab dengan mudah. Meskipun menjadi Muslim di Jerman bukanlah hal yang mudah namun kenyataannya banyak warga Jerman yang memutuskan untuk memeluk agama Islam. Itu artinya mereka bisa menerima agama Islam.

Bila punya kesempatan untuk berjalan-jalan ke Jerman, tentunya kita ingin melihat secara langsung bagaimana warga Muslim menjalani kehidupannnya di Jerman dan berinteraksi dengan warga setempat. Kita sungguh ingin melihat bagaimana mereka menjalankan konsep habluminallah dan habluminannas.

Jika sungguh-sungguh punya kesempatan berjalan-jalan ke Jerman jangan lupa untuk singgah ke mesjid-mesjid yang ada di Jerman khususnya Moschee Schewetzingen. Moschee Schewetzingen dibangun pada tahun 1779-1791 oleh seorang arsitek yang berasal dari Prancis yang dipersembahkan untuk pangeran yang tinggal di kastil. Mesjid merah ini memiliki dua kubah dan dua menara. Pada dindingnya terdapat tulisan kaligrafi Arab yang diterjemahkan kedalam bahasa Jerman. Disebelah Timur ada kebun pohon sakura yang dibawa dari Jepang. Disebelah Barat terdapat kolam buatan yang sungguh menarik hati. Mesjid ini adalah simbol toleransi dan integrasi antarar timur dan barat pada masa Carl Theodore dan Jerman modern. Jadi pingin kesana kan?

Untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, bergabunglah dengan komunitas-komunitas positif. Teruslah berbagi hal-hal postif agar menciptakan energi yang positif juga. Perubahan dunia menuju hal yang lebih baik dimulai dari diri sendiri. Salam semangat untuk seluruh penduduk dunia. I love you. (Andriyanti Pasaribu ~ Guru, Mahasiswa Pascasarjana, Aktif di Media Sosial)

To Top