Opini BangFauzi

Mau Calonkan Kepala Daerah, Sudah Buat Apa ?

Sudah buat apa beliau untuk maju jadi calon kepala daerah? Sudah buat apa dia mau maju lagi ?

Pertanyaan seperti di atas semakin sering kita dengar saat-saat menjelang Pilkada Walikota / Bupati maupun Gubernur.

Bagi Saya yang saat ini bergelut di dunia politik yang selalu dekat dengan peristiwa Pilkada maupun Pemilu, rasanya sudah tidak asing lagi mendapatkan pertanyaan seperti itu.

Pertanyaan tersebut di atas adalah satu kewajaran publik menilai sosok kita maupun para bakal calon Kepala Daerah dan Anggota Dewan. Karena, sungguh tidak lucu juga jika sebagai pemilik suara yang menentukan, kita Rakyat biasa ini tidak mengetahui perbuatan baik yang sudah dilakukan para calon-calon tersebut.

Namun, sedikit tidak adil jika pertanyaan, sudah berbuat apa? ditujukan untuk menghakimi para putra-putri terbaik bangsa ini untuk berkompetisi pada Pilkada dan Pemilu y.a.d.

Sudah berbuat apa? Hendaknya janganlah kita kaitkan langsung pada ruang lingkup pembangunan daerah ini. Sebab, jika sebelum mencalonkan diri sebagai kepala daerah, sosok tersebut adalah seorang pejabat di Pemerintah pusat baik TNI/Polri maka jika dibandingkan dengan incumbent jelas karyanya akan berbeda.

Sudah berbuat apa? Akan semakin sulit dijawab jika hal itu ditujukan kepada calon yang berlatar belakang legislatif baik DPD/DPR maupun DPRD. Sebab, prestasi di lembaga perwakilan rakyat di negara kita ini, bukanlah prestasi pribadi, tetapi lembaga, karena setiap keputusan yang diambil selalu melalui musyawarah bersama dan pemungutan suara.

Apalagi jika itu adalah sosok pengusaha? Sudah berbuat apa? Wah, bakalan payah calon tersebut untuk menjawab pertanyaan itu, karena pastinya perbuatan yang bisa diuraikan nya adalah perbuatan bagaimana perusahaan yang dimiliki bisa meraih keuntungan yang tidak terbatas.

Maka, Saya pikir, sebagai pemilik suara yang disebut negara berdaulat kepada rakyat, rakyat tidak boleh dibiarkan terjebak dengan pertanyaan yang membuat sekat antara pemilih dan calon yang akan dipilih.

Boleh saja, pertanyaan sudah berbuat apa? Itu ada mewarnai dinamika pesta demokrasi ini. Tapi bukan untuk menghakimi bahwa sosok tersebut tidak mengabdi kepada daerah, tidak peduli kepada rakyat, padahal untuk berniat maju saja, saya berkeyakinan sosok-sosok itu sudah bisa kita akui punya niat yang baik.

Pertanyaan sudah berbuat apa, sah-sah saja ada, namun, sebaiknya lebih kearah prestasi pribadi sebagai bukti ketangguhan nya dalam memimpin. Lucu juga jika kita nanti memilih kepala daerah yang ternyata rumah tangganya saja tidak harmonis? Aneh saja jika akhirnya kita memilih wakil rakyat yang latar belakang pendidikan juga tidak jelas?.

Sudah berbuat apa, hendaknya menjadi jadi pertanyaan pembuka bagi kita untuk mengenal para bakal calon Kepala daerah maupun wakil rakyat kita nantinya. Tapi kalau sudah berbuat apa yang dimaksudkan adalah ngajak kita “ngopi-ngopi,” sambil kasi “amplop dikit,” ini berbahaya, nanti kena saber pungli. (Mfh)

To Top