Home

Cerita Seorang Pekerja Mulai Pagi Hingga Malam Bangun Jalan Tol Fungsional

Banfauzi.com – Ahmad Fauzi (33) sedang bersantai di samping buldozer kuning ketika ditemui, Minggu (11/6/2017). Dia duduk bersandar sambil mengisap sebatang rokok yang ada terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Hal itulah yang biasa dilakukannya saat jam istirahat kerja.

Fauzi, begitu sapaan akrabnya, adalah salah satu pekerja bangunan di proyek pembangunan tol Pejagan-Pemalang atau Pejagan-Pemalang Tol Road (PPTR). Dia mengatakan bekerja lebih dari 12 jam sehari sudah biasa dia lakoni di sana.

“Kami sampai jam dua (malam, red) kadang. Dari jam 8 pagi, jam 5 sampai 7 sore istirahat. Kalau malam kami lihat kondisi (pekerjaan bisa ditinggal atau tidak, red). Kadang sampai pukul 24.00 WIB atau sampai pukul 02.00 WIB,” kata Fauzi di proyek PPTR, Brebes, Jawa Tengah seperti yang dikutip dari Detik.com.

“Kadang kalau ngecor sampai pagi. Paling pagi pukul 05.00 WIB, kami off dulu, lalu pukul 10.00 WIB, kerja lagi,” sambung Fauzi.

Fauzi memiliki keahlian yang hanya dimiliki sebagian pekerja, yaitu memainkan alat berat sehingga keterlibatannya dalam proyek ini hanya sekadar mengoperasikan buldozer. “Pertamanya ya belajar, jadi kenek dulu.Ngelihatin orang yang operasiin, lalu diajarin” ujar Fauzi.

Pria asal Semarang itu menerangkan proyek tol fungsional mulai aktif sejak pasca Lebaran 2016, dengan dilakukannya tahap clearing area atau pembukaan akses untuk masuknya alat-alat berat konstruksi selebar 10 meter.

“Dari mulai masih sawah itu,” kata dia.

Ayah dua anak itu mengungkapkan kesibukan di proyek PPTR membuatnya hanya sebulan atau dua bulan sekali menengok keluarga kecilnya di Semarang. “Selama kerja di proyek , saya pulang nunggu serep .Paling sebulan-dua bulan sekali liburnya. Atau seminggulah,” terang Fauzi.

Masih kata dia, musuh seorang operator buldozer adalah hujan karena kondisi tanah menjadi labil. Fauzi mengungkapkan, jika kondisi tanah tidak stabil, dia harus memadatkan tanah agar truk-truk atau tronton pembawa material konstruksi dapat melintas di area proyek.

“Dukanya itu, yang paling berat kalau habis hujan, tronton banyak masuk, apalagi mungkin ratusan, lalu dozernya cuma satu, ya capai bikinin jalan akses ke proyek. Karena tanah pada anjlok habis hujan,” ungkap dia.
(aud/dhn)

To Top