Berita

Pencarian Spiritual Seorang Polisi, Requel Menemukan Islam di Tepi Ajal

Raquel berasal dari keluarga yang tidak terlalu menganggap penting agama-agama. Perempuan ini tinggal di Detroit, Michigan, Amerika Serikat (AS). Kota itu termasuk yang paling metropolitan di negeri asal Paman Sam.

Seperti kaum urban pada umumnya, keluarga Raquel cenderung sibuk pada persoalan materiel sehari-hari. Namun, Raquel tumbuh menjadi pribadi yang kritis. Ia juga menyukai kegiatan-kegiatan yang menonjolkan nilai-nilai patriotisme. Karena itu, sejak kecil Raquel bercita-cita menjadi seorang polisi.

Puluhan tahun kemudian, keinginan masa kanak-kanak ini akhirnya terwujud. Ia lulus dari akademi kepolisian AS. Dalam rentang waktu sembilan tahun, yakni 1996 hingga 2004 Raquel bertugas sebagai petugas kepolisian di Detroit.

Di antara berbagai pengalamannya, ada satu peristiwa yang tak terlupakan. Raquel pernah mengalami kecelakaan yang cukup fatal saat sedang bertugas sebagai penegak hukum pada 2002. Ia mengalami luka tembak di bagian tubuh yang vital sehingga memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Saya benar-benar hampir tewas waktu itu. Dan, kalaupun saya meninggal dunia lantaran tertembak, saya tidak tahu bagaimana akhirnya. Neraka atau apa? kata Raquel seperti dikutip dari AboutIslam.net, Februari 2017.

Beberapa hari di rumah sakit membuatnya merenungi esensi kehidupan. Sejak kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu, Raquel mulai lebih serius memikirkan kehidupan setelah kematian (afterlife).

Ia meyakini, yang harus ditakuti bukanlah kematian, melainkan persiapan diri memasuki akhirat. Ia percaya, di akhirat sana manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.

Namun, sampai saat itu Raquel hanya mendapatkan gambaran yang samar-samar mengenai persoalan ketuhanan. Ia tumbuh dari keluarga yang jauh dari nilai-nilai religius.

Ia berjanji kepada dirinya sendiri, begitu lukanya pulih, ia akan memulai pencarian spiritual. Raquel merasa mendapatkan semangat baru dan cara pandang yang berbeda mengenai kehidupan.

Saya merasakan inilah awal dari hidup yang baru. Para rekan sejawatnya menyambut gembira Raquel yang sudah keluar dari rumah sakit. Di antara mereka, ada sahabatnya yang beragama Islam. Suatu hari, Raquel mencurahkan perasaannya selama di rumah sakit, mengenai kegelisahan spiritualnya serta renungannya mengenai kematian.

Raquel merasa, sejak kejadian itu ia berkewajiban untuk menjalani kehidupan sesuai dengan perintah Tuhan. Tapi, siapa itu Tuhan? Bagaimana mendapatkan iman kepada-Nya? Muslimah sahabatnya ini mendengarkan curhat Raquel dengan saksama.

Itulah untuk pertama kalinya, Raquel mengenal Islam. Ia pun semakin sering meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan sahabatnya tersebut. Ada satu hal yang membedakan Raquel dari kebanyakan anggota keluarganya, yakni ia tidak percaya stigma-stigma yang dialamatkan pemberitaan mainstream kepada orang Islam di Amerika. Namun, hal itu tidak berarti pula Raquel mendukung semua orang Islam. Ia hanya tidak memihak baik kepada pro-Muslim ataupun anti-Muslim.

Saya hanya menghormati kepercayaan orang. Pada dasarnya, setiap orang berhak memiliki kepercayaan akan adanya Tuhan, ujarnya. Dalam masa bertugasnya di kepolisian, pada 2001 AS diguncang peristiwa runtuhnya Menara Kembar WTC di New York. Insiden 9/11 itu dengan cepat meningkatkan tensi islamofobia di AS.

Raquel sangat kecewa karenanya. Tidak jarang, sebagai polisi ia menangani kasus kekerasan atas kelompok Muslim AS. Para pelaku selalu menuduh orang Islam sebagai sumber bahaya meskipun jelas-jelas Muslim AS hanyalah warga biasa yang bekerja sehari-hari sama seperti mereka. Kecamannya terhadap islamofobia mencuat jauh sebelum Raquel pada akhirnya memeluk agama ini.

Raquel bisa benar-benar marah saat bertugas sebagai polisi begitu mendapati pelaku yang menyerang Muslim hanya karena korban ini beragama Islam atau berpenampilan islami.

Bagi Raquel, stereotipe teroris kepada umat Islam bukan hanya mengganggu, melainkan juga mencederai akal sehat. Hanya karena seseorang memeluk agama Islam, menurut Raquel, tidak lantas berarti ekstremis atau bahwa Islam mengajarkan kekerasan. Raquel memiliki cukup banyak sahabat Muslim yang baik. Demikian pula, banyak non-Muslim yang tidak berkelakuan cukup baik terhadap sesama.

Memang, orang-orang baik dan tidak baik ada di agama apa pun. Sama saja.

Serangan WTC

Kejadian 9/11 semakin memacu semangat Raquel mempelajari Islam. Sesudah 2001, Raquel mulai simpatik melihat Islam sebagai ajaran-ajaran yang rahmat bagi semua. Di samping itu, Raquel tertarik dengan konsep tauhid dalam agama ini. Sejak remaja, ia secara intuitif meyakini bahwa Tuhan itu satu. Ketuhanan dalam Islam begitu berbeda dengan agama-agama lain, sejauh yang ia pelajari.

Akhirnya, pada 2012 Raquel secara resmi memeluk Islam. Beberapa tahun sebelumnya, ia memang sudah menjalani keseharian dengan nilai-nilai Islami, semisal menjauhi minuman beralkohol. Ia kembali pada persoalan kematian. Siapa pun tidak tahu bagaimana akhir hidup sendiri. Karena itu, mengapa tidak segera secara utuh menerima Islam sebelum ajal menjemput?

Sekarang, saya sudah merasa nyaman dan damai. Saya merasa senang karena tahu arah tujuan hidup saya, mana saya akan pergi ketika suatu saat tiba giliran saya (meninggal dunia), kata dia. ed: nashih nashrullah

Belajar Bahasa Arab dan Nyaman Berhijab

Raquel kini berpindah tugas ke Las Vegas. Di lingkungan baru itu, ia mendapatkan kesempatan untuk lebih giat mempelajari Islam dan mengamalkan ibadah-ibadah. Sebab, rumahnya kebetulan dekat dengan sebuah masjid.

Di sana, ia juga mengikuti program-program bakti sosial serta kajian yang diadakan pihak pengelola masjid. Dibandingkan Detroit, Raquel mengatakan, Las Vegas tempatnya tinggal lebih mendukung menjalani keseharian sebagai seorang Muslim. Namun, ia tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tuanya di Detroit.

Salah satu yang masih menjadi tantangan bagi Raquel adalah mempelajari bahasa Arab. Di satu sisi, hal ini juga disyukuri Raquel. Sebab, Islam ternyata tidak hanya mengajarkan persoalan etis, tetapi juga budaya-budaya baru.

Islam tidak sekadar menawarkan cara pandang, tetapi membuka pada budaya-budaya baru yang berbeda dari kita. Buat saya, ini menarik. Saya bukan hanya terpacu untuk mempelajarinya. Saya ingin bisa melakukannya (berbahasa Arab) sendiri, kata dia menjelaskan.

Dalam beberapa hal, internet cukup dapat diandalkan. Misalnya, Raquel mengungkapkan, ia pertama kali belajar mengenakan hijab melalui tayangan video di dunia maya. Di Las Vegas, kebanyakan laki-laki di jalanan melihat perempuan dengan cara yang tidak menyenangkan. Dengan berhijab, Raquel merasa aman dan nyaman.

To Top