Berita

Infrastruktur Jalan Tol Jadi Modal Pembangunan Sumut

Indonesia tak hanya Pulau Jawa, tetapi terbentang dari Sabang sampai Merauke. Karena itulah sudah selayaknya pembangunan tak terpusat di Pulau Jawa semata. Tetapi yang terjadi, bertahun‑tahun yang terjadi adalah Jawa sentris, di mana pembangunan lebih banyak dilakukan di Pulau Jawa, khususnya di bidang infrastruktur jalan dan jembatan.

BANGFAUZI.COM – Daerah‑daerah di luar Jawa, misalnya provinsi‑provinsi di Sumatera seolah hanya jadi penonton menyaksikan pembangunan di Pulau Jawa.

Bagi siapapun yang sudah tinggal di luar Jawa selama bertahun‑tahun, tentu sudah hafal betul seperti apa kondisi infrastruktur jalan di daerah.

Kualitas jalan yang buruk, termasuk kondisi jembatan‑jembatan yang harus dilewati juga buruk. Jalanan berlubang dan kualitas aspal yang jelek. Di Jawa, sepertinya agak sulit menemukan jalan yang buruk terutama untuk jalan kelas nasional dan provinsi.

Ambil contoh Sumatera Utara (Sumut). Bukan cerita baru lagi, kalau Sumut masih jauh tertinggal dalam sektor pembangunan infrastruktur, khususnya jalan dan jembatan. Apa yang terjadi? Kondisi ini antara lain mengakibatkan tidak optimalnya pergerakan barang antardaerah, khsususnya di wilayah‑wilayah terpencil yang mengalami keterbatasan jalan. Pembangunan antara Jawa dan luar Jawa menjadi timpang.

Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Sumut Muhri Fauzi Hafiz mengatakan, kalau mau jujur, potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) di Pulau Sumatera tidak buruk‑buruk amat dibandingkan dengan provinsi yang ada di Pulau Jawa.

“Sumut kaya akan berbagai potensi untuk dapat bersaing dengan provinsi‑provinsi lainnya. Di sini ada sumber daya alam yang berlimpah. Tidak hanya itu, SDM Sumut juga merupakan yang terbanyak di Indonesia. Semua potensi ini sebetulnya sudah cukup membuat daerah ini menjadi yang terdepan di Indonesia asal dikelola dan didukung dengan infrastruktur yang baik,” ujar Muhri seperti yang dikutip dari Tribun Medan.

Siapapun yang sudah tinggal bertahun‑tahun Sumut tentu saja menjadi saksi bahwa, provinsi ini memang harus berbenah terutama infrastrukturnya. Sebagai provinsi di luar Jawa dengan jumlah penduduk paling besar, yang hampir mencapai 13 juta jiwa itu, maka Sumut menyimpan modal pembangunan yang sangat besar.

Hal ini juga didukung dengan potensi kekayaan alam seperti hasil pertanian dan perkebunan, perdagangan maupun pariwisatanya. Tidak kalah jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa.

Muhri Fauzi Hafiz, Anggota Fraksi Demokrat DPRD Sumut

Muhri Fauzi Hafiz, Anggota Fraksi Demokrat DPRD Sumut

Pembangunan yang lebih merata dirasakan Sumut, ketika Joko Widodo menjadi Presiden Indonesia pada 2014. Presiden Jokowi memberi perhatian yang besar terhadap pembangunan di luar Jawa.

Setidaknya terdapat beberapa proyek infrastuktur yang saat ini sedang dibangun di Sumatera dan diperkirakan akan rampung pada 2017. Salah satunya adalah pembangunan jalan tol Medan‑Binjai sepanjang 16,72 km, yang merupakan bagian dari megaproyek Tol Trans Sumatera. Nilai investasi proyek yang mencapai Rp 1,6 triliun ini pengerjaannya terbagi dalam tiga seksi. Sesi pertama, Tanjungmulia‑Helvetia), seksi kedua Helvetia‑Semayang, dan seksi ketiga Seisemayang‑Binjai.

Pembangunan jalan tol ini diharapkan akan membantu mengatasi macet panjang yang rutin terjadi di perempatan Pinangbaris‑Medan serta memberi nilai ekonomi yang sangat tinggi dan berkurangnya biaya transportasi dan logistik.

Jalur distribusi barang dan jasa dari dan menuju Provinsi Aceh juga pasti semakin cepat dan mudah. Nantinya, Tol Medan‑Binjai akan terkoneksi dengan Tol Belmera (Belawan‑Medan‑Tanjungmorawa).

Selanjutnya jalan Tol Medan‑Kualanamu‑Tebingtinggi yang juga dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Jalan tol ini nantinya terhubung dengan Bandara Internasional Kualanamu dengan total panjang 61,70 kilometer.

Proyek ini juga melibatkan perusahaan‑perusahaan BUMN seperti PT Hutama Karya, PT Waskita Karya, PT Pembangunan Perumahan, dan PT Jasa Marga. Nantinya Jalan Tol Medan‑Kualanamu‑Tebingtinggi ini direncanakan dilanjutkan dengan pembangunan proyek jalan tol hingga Pematangsiantar dan Parapat. Jadi akan ada jalan tol sepanjang 116 km dari Medan hingga Parapat.

“Pembangunan ini tentunya patut kita apresiasi, perhatian pemerintah pusat ini harus mampu dimaksimalkan semua pihak. Saat ini, pembangunan jalan tol sudah terus digenjot. Namun, jika boleh berharap, rencana pembangunan jalan tol ke daerah Danau Toba harus mampu diwujudkan, sebab pengembangan destinasi pariwisata di sana akan lebih maksimal lagi kalau sudah ada jalan tol yang menghubungkan,” ujar Muhri.

Pembangunan jalan tol hingga tembus ke Parapat ini tentunya akan memberi manfaat yang besar bagi kota‑kota yang berada di sekitar Danau toba. Seperti yang kita ketahui, saat ini pemerintah memasukan Danau Toba ke dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) bersama 10 destinasi lain.

Pemerintah juga telah membentuk Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah serius untuk mengembangkan Danau Toba yang memang menyimpan potensi yang luar biasa. Selama ini yang menjadi kendala adalah waktu tempuh wisatawan yang dari Medan ke Danau Toba yang mencapai 5‑7 jam.

Padahal jarak Medan‑Parapat hanya sekitar 175 kilometer. Kemacetan di daerah Tebingtinggi dan Siantar menjadi penyebab lamanya waktu tempuh Medan‑Parapat ini. Jika jalan tol dari Medan‑Parapat sudah terealisasi, maka akan memangkas setengah waktu perjalanan normal.

Proyek pembangunan yang juga sedang berjalan adalah Jalan Tol Trans Sumatera sepanjang 2.800 km. Terbentang dari Provinsi Aceh hingga Lampung.  Proyek yang ditangani oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tol Trans Sumatera ini diharapkan menjadi urat nadi perekonomian Pulau Sumatera di masa depan.

Proyek lainnya yang sedang dalam tahap survei dan perencanaan adalah pembangunan jalan Tol Kisaran‑Tebingtinggi sepanjang 68,9 kilometer. Pembangunan jalan tol ini merupakan bagian dari rencana pembangunan jalan Tol Trans Sumatera.

Di samping pembangunan jalan tol, Sumut juga sedang berbenah melalui pembangunan jalur kereta api. Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan kini sedang membangun Jalur Ganda Layang Kereta Api relasi Stasiun Medan‑Stasiun Bandar Khalipah sepanjang 8 kilometer.

Jalur ini merupakan bagian dari pembangunan Jalur Ganda Kereta Api relasi Stasiun Medan‑Stasiun Bandara Kualanamu sepanjang 27 kilometer.

Lalu ada juga pembangunan Jalur Ganda Kereta Api relasi Stasiun Araskabu‑Stasiun Bandar Khalipah sepanjang sepanjang 19 kilometer. Kemudian pembangunan jalur kereta api relasi Rantauparapat‑Kotapinang sepanjang 57,8 kilometer.

Lalu ada juga reaktivasi jalur kereta api relasi Stasiun Binjai‑Stasiun Besitang sepanjang 80 kilometer. Beberapa lintasan kereta api di Sumut akan tergabung menjadi jalur kereta api Trans Sumatera sepanjang 1.574,5 kilometer yang menghubungkan Sumut‑Aceh‑Riau.

Pengamat Transportasi dari Lembaga Studi Advokasi Transportasi Sumut, Sukrinaldi, menilai pembangunan berbagai infrasturktur jalan dan kereta api sebagai pintu gerbang kemajuan prasarana transporatsi di Sumut.

Sukrinaldi menyebut pembangunan jalan tol di Sumut, khususnya rute Medan‑Kualanamu‑Tebingtingi, telah menunjukkan perkembangan yang positif. Begitupun dengan perkembangan pembangunan jalan tol rute Medan‑Binjai dan beberapa pembangunan jalur kereta api lainnya.

Pembangunan‑pembangunan ini, kata Sukrinaldi, harus diimbangi dengan pembenahan pola pikir masyarakat ketika berlalu lintas.

Sebab, tujuan utama pembangunan ini, yakni mengurangi kemacetan dan menghemat waktu berkendara, tidak akan tercapai bila tingkat kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas yang baik dan benar belum tercipta. “Sama saja kalau kesadaran masyarakatnya rendah,” ujar Sukrinaldi, Rabu (28/12).

Menurut Sukrinaldi, pemerintah daerah juga harus membentuk suatu peraturan tentang sistem transportasi agar infrastruktur yang ada bisa optimal. Dia berharap pemerintah, baik Pemprov Sumut maupun pemerintah kabupaten dan kota lainnya, dapat sesegera merancang peraturan daerah tersebut.

Berdasarkan survei yang dilakukannya, Sukrinaldi menyebut arus mudik di Sumut pada H‑3 menjelang Tahun Baru 2017 sudah padat di beberapa titik. Kemacetan ini memang kerap terjadi, sebab Sumut hanya memiliki jalan alternatif yang terbatas. Pembangunan jalan tol ini diharapkan menjadi solusi atas kemacetan yang terjadi.

Meski pada pengujung tahun ini pembangunan jalan tol belum tuntas, Sukrinaldi berharap agar pembangunan tersebut sudah rampung sebelum Hari Raya Idul Fitri 2017 mendatang. “Dari Bengkulu, Palembang dan provinsi‑provinsi lainnya sudah banyak yang masuk ke Sumut pada hari ketiga menjelang Tahun Baru ini, kemacetan juga sudah terjadi di beberapa titik. Ini menunjukkan bahwa sarana dan prasarana jalan sangat dibutuhkan di Sumut,” katanya.(*)

To Top