Berita

RI Kembangkan Industri Ramah Lingkungan dan Hemat Energi

Pemerintah mendorong industri untuk ramah lingkungan dari segi produksi hingga hasil akhir yang kini diatur dalam standar industri hijau. Hal itu untuk meningkatkan ekspor dan meningkatkan nilai produk industri.

Namun, saat ini standar industri hijau masih dilaksanakan secara sukarela, belum diwajibkan. Di mana, jika perusahaan mengikuti standar industri hijau ini akan meningkatkan daya saing industri dan meningkatkan kinerja,dengan perkembangan teknologi, kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup.

“Pada kenyataannya, sekarang ini pasar sudah mulai mengapresiasi industri yang dalam operasionalnya menerapkan praktik terbaik yang efisien dalam penggunaan material dan energi serta berkurang timbulan limbahnya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (18/12/2016).

Pembentukan standar industri hijau ini telah selaras dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, pengembangan industri juga dimaksudkan untuk mewujudkan industri hijau. Artinya, industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat kepada masyarakat.

“Pengembangan industri hijau yang juga bertujuan meningkatkan efisiensi penggunaan energi, dan sekaligus menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), sangat relevan dengan dengan komitmen Indonesia dalam menurunkan GRK. Sebagai salah satu penghasil emisi GRK terbesar, industri didorong untuk menerapkan aksi-aksi mitigasi perubahan iklim,” kata Airlangga.

Bahkan menurutnya, jika produknya ramah lingkungan maka akan meningkatkan harga produk di pasar. Serta akan menghemat cost produksi.

“Kalau produk ramah lingkungan ini dapat premium di pasar. Ini akan kita dorong bukan hanya ramah lingkungan tapi bukan hanya itu energinya juga harus efisien. Bagus untuk ekspor dan bagi perusahaan itu juga bagus, costbakal turun,” kata Airlangga.

Dikaitkan dengan kinerja industri saat ini dan peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, kita sepakat bahwa apa yang kita capai sekarang belum sesuai dari yang kita harapkan. Hingga triwulan ke-3 tahun 2016, kontribusi PDB sektor industri sebesar 17,8% dan penumbuhan industri sebesar 4,7%.

belum dapat mengangkat ekonomi nasional secara signifikan. Selain karena kondisi ekonomi global yang lesu, hal tersebut tentunya sangat berkaitan dengan daya saing industri kita yang relatif masih rendah.

Diantara berbagai faktor yang menentukan daya saing industri, kinerja industri dalam menjalankan proses produksi merupakan salah satu faktor yang cukup menentukan. Oleh karenanya, kemampuan mengelola dan menerapkan praktik terbaik sangat panting untuk terus menerus ditingkatkan.

To Top