Berita

OJK Ajak Regulator dan Pelaku Usaha Asuransi di ASEAN Membangun Integrasi

BANGFAUZI.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi penyelenggara sekaligus pemimpin pertemuan ASEAN Insurance Regulators Meeting (AIRM) ke-19 yang digelar 21-25 November 2016 di Yogyakarta.

AIRM ke-19 dihadiri 54 perwakilan regulator asuransi di ASEAN termasuk perwakilan dari ASEAN Secretariat dan 80 perwakilan dari perusahaan asuransi di ASEAN termasuk perwakilan dari ASEAN Insurance Council (AIC).

Pada AIRM ke-19, para regulator industri asuransi di ASEAN akan membahas beberapa topik. Pertama, arah kebijakan mengenai pengaturan terkait industri asuransi. Kedua, perkembangan statistik industri asuransi di ASEAN. Ketiga, pelaksanaan Insurance Core Principle (ICPs). Keempat, integrasi industri asuransi di ASEAN.

Seperti yang dilansir Republika.com Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dalam pembukaan AIRM ke-19 menyatakan, industri asuransi di ASEAN memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. “Dengan kondisi tersebut, regulator dan pelaku usaha harus bisa membangun integrasi industri asuransi di ASEAN untuk bersama-sama memajukan pertumbuhan ekonomi di kawasan,” katanya, Rabu (23/11).

Data OJK menyebutkan, pertumbuhan industri asuransi pada 2015 secara global cenderung melambat dibanding 2014. Industri asuransi jiwa secara global mengalami pertumbuhan sebesar 3,3 persen (2014 sebesar 4,7 persen), sedangkan industri asuransi umum mengalami pertumbuhan sebesar 2,5 persen (2014 sebesar 2,8 persen).

Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan jumlah pelaku usaha industri asuransi di Asean pada 2015 dengan total 509 perusahaan asuransi, meningkat dari tahun 2014 yaitu sebanyak 483 perusahaan.

Data tahun 2015, dari sisi bisnis Industri Asuransi di ASEAN, asuransi umum masih memegang proporsi paling besar yaitu 63 persen diikuti oleh asuransi jiwa (22 persen), professional reinsurers (9 persen), composite insurance (5 persen), dan badan usaha milik negara (1 persen).

Dari sisi aset, total aset industri asuransi di ASEAN mencapai 388,1 miliar dolar AS dengan kontribusi asuransi jiwa memegang 83 persen dari total aset tersebut atau mencapai 322 miliar dolar AS. Sedangkan industri asuransi umum memiliki total aset 66,1 miliar dolar AS atau sebesar 17 persen dari total aset.

Industri Asuransi di Singapura dengan total aset 148,84 miliar dolar AS memiliki proporsi terbesar dari total aset di ASEAN diikuti oleh Thailand (83,95 miliar dolar AS) dan Malaysia (55,70 miliar dolar AS). Indonesia sendiri berada di posisi ke-4 yaitu sebesar 45,42 miliar dolar AS.

Sejalan dengan peningkatan tersebut, total pendapatan premi industri asuransi di ASEAN pada 2015 mencapai 87,9 miliar dolar AS atau meningkat 8,1 persen dari tahun sebelumnya. Singapura berada di urutan nomor 1 dalam pendapatan premi industri asuransi di ASEAN dengan total 24,2 miliar dolar AS diikuti oleh Thailand sebesar 19,1 miliar dolar AS, dan Indonesia 12,9 miliar dolar AS. Peningkatan total pendapatan premi di Indonesia didukung dengan pertumbuhan industri asuransi syariah.

To Top