Berita

THR dan Kepedulian Si Kaya Pada Si Miskin

BANGFAUZI.COM – Tak terasa beberapa hari lagi hari Raya itu akan segera tiba, ianya menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses kehidupan kita. Tidak ada yang bisa menghentikan. Nama bulannya pun berganti dari ramadhan menjadi syawal. Bulan Syawal menjadi bulan kegembiraan bagi Umat Muslim sedunia.

Kegembiraan ini ditandai dengan sambutan yang luar biasa oleh semua umat, tua muda, miskin dan kaya, semua akan larut dalam suasana gembira pada hari Raya,saling sapa, saling memaafkan menjadi pemandangan umum yang kita saksikan dipagi hari raya, bahkan padahari ke-1- dan ke-2 bulan Syawal tersebut, Tuhan-pun melarang kita  untuk berpuasa.

Hari Raya itu kalau di Indonesia , identik dengan THR (Tunjangan Hari Raya). THR bagi perusahaan adalah wujud penghargaan atas pengabdian karyawan yang sudah menahun mengabdi. THR bagi kerabat adalah pengikat silaturahim tanda mengenang persahabatan yang sudah lama terbangun.

THR bagi istri dan anak adalah buah karya dari sang Ayah sebagai kepala rumah tangga untuk kegembiraaan menyambut hari raya. THR bagi si miskin tanda kepedulian si Kaya bahwa sebagai sesama umat Tuhan harus memiliki jiwa sosial dan kepedulian agar kegembiraan hari Raya, juga dirasakan bersama tanpa memandang status dan latar belakang.

Namun, tidak segalanya karena THR. Kita gembira dan senang di hari Raya karena kita bisa sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk. Kita gembira sambut hari raya karena Allah masih beri kesempatan emas bagi kita untuk bisa silaturahim bersama keluarga di hari raya.

Bagi yang bisa menikmati malam lailatul qadar tentu kegembiraan itu tak bisa diukur dengan THR. Bahkan, tanpa ada THR pun kita tetap akan berhari Raya.  Karena, hari Raya itu  sesungguhnya takdir Allah buat kita semua untuk disyukuri sebagai nikmat yang tak bernilai harganya.

Selama bulan Ramadhan kita berpuasa, apapun hasil yang kita buat dari ibadah puasa tersebut, itu adalah prestasi. Allah yang maha mengetahuinya. Kegembiraan kita saat sambut hari Raya karena kita mampu berpuasa, selama satu bulan penuh maka, itu adallah kegembiraan hakiki.

Memohon kepada Allah agar mampu menikmati malam-malam Ramadhan yang akan datang adalah anjuran utama jelang kita akhiri ramadhan. Ingatlah, kita akan meninggalkan suasana religius yang menghiasi saat-saat indah kita dan keluarga berbuka bersama. Kita tidak akan berpisah dengan suasana masjid-masjid dijejali jamaah mulai dari subuh sampai waktu isya. Tidakkah kita merindukan suasana itu? Apakah suasana itu tergantikan dengan THR?

Seperti konsep THR di perusahaan, siapa yang sudah lama bekerja dan loyal maka dibayarkan. Begitupula dengan puasa kita, bahwa prestasi kita mampu berpuasa satu bulan penuh, patut dihargai, loyalitas kepada Allah juga sudah dijamin akan diberikan imbalan. Ingat, Allah sudah berjanji bahwa selain keberkahan di bulan Ramadhan, orang-orang yang berpuasa akan memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.

Inilah janji Allah yang luar biasa. Inilah hadiah yang nyata kita butuhkan. Lalu kenapa kita sering letih dan mengeluh gara-gara tidak bisa mudik? Kita meradang dan sedih gara-gara tidak dapat syrup THR? Lalu kenapa kita bersedih dan menangis karena tidak dapat THR (duit) yang banyak?

Perlu kita ingat, jika buah puasa kita adalah ampunan-Nya. Maka, apalagi yang bisa menggantikan selain itu? Apakah THR akan mengurangi makna dari prestasi yang sudah kita buat di bulan Ramadhan? Apakah karena THR tidak didapat kitapun bersorak dan menorehkan luka amarah yang berbekas?  (mfh)

To Top