Berita

Interpelasi, 30 Pertanyaan Bakal Dilemparkan DPRD Sumut Pada Gatot

Setidaknya ada kurang lebih 30 pertanyaan yang akan dipaparkan saat paripurna pengajuan interpelasi di DPRD Sumut terhadap Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho, Senin 20 April 2015 mendatang.

“Jika disetujui setengah tambah satu dari para anggota DPRD Sumut yang hadir nantinya, maka, semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan resmi kita ajukan pada Gubernur Sumatera Utara guna perbaikan daerah yang lebih baik,” demikian disampaikan Fauzi Muhri Hafiz anggota Komisi C DPRD Sumut sebagai penggagas hak interpelasi terhadap Gatot, Kamis (16/4/2015).

Seperti yang dikethui ada lima isu utama yang bakal ditanyakan kepada Gatot selaku gubernur Sumut yakni, hasil audit BPK TA 2013 terhadap laporan keuangan Pemprov Sumut TA 2013, Perda tentang APBD Pemprov Sumut TA 2012, TA 2013, dan TA 2014, Keputusan Mendagri No 900-3673 Tahun 2014 tentang evaluasi Ranperda Provinsi Sumut tentang APBD Perubahan TA 2014 dan Ranpergub tentang Penjabaran APBD Perubahan TA 2014 tanggal 16 September 2014.

Berdasarkan pemeriksaan BPK RI terakhir itulah ternyata diketahui Pemprov Sumut menumpuk hutang sebesar Rp 2,1 Triliun kepada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Hutang tersebut merupakan dana yang harusnya dibagikan ke Kabupatan/Kota sebagai bentuk Dana Bagi Hasil (DBH).

Menurut Fauzi faktor itulah yang membuat pembangunan di sejumlah daerah tersendat. Hutang-hutang yang seharusnya dibayar kepada pihak ketiga tidak dapat dilakukan oleh Kabupaten/Kota karena Pemprov Sumut menunggak pembayaran DBH.

“Bagaimana hutang ini bisa terjadi, bagaimana manajemen pengelolaan hutang ini, dari mana uang yang diguanakan untuk membayar hutang? Itu kan perlu kita tanyakan,” ujar politisi asal Partai Demokrat tersebut.

Fauzi pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada segenap lapisan masyarakat yang sudah berikan perhatian pada proses interpelasi sehingga bisa digulirkan pekan depan. “tidak ada motivasi lain, ini salah satu bagian dari upaya agar sumut bisa bangkit dengan nyata bukan bangkit hanya slogan. Lihat kemaren hari jadi sumut jika kita menyadari terasa sepi tidak ada yang menggugah hati, prestasi diukir dalam sejarah bukan nyanyian dan senandung seremoni yang bisa menyakitkan hati,” katanya.

To Top